Rabu, 08 Februari 2017

Empat Anugerah Bagi Pendosa

Empat Anugerah Bagi Pendosa

Oleh: Ina Salma Febriani

Allah memiliki sifat-sifat yang mulia. Sifat-sifat Allah tersebut dikenal dengan Asmaul Husna, salah satunya Al-Wahhab (Maha Pemberi Anugerah).

Dalam Surah An-Nisaa ayat 27 dan 28, Allah Swt berfirman : “Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran). Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.”

Sa’ad bin Hilal pernah berkata, “Bila manusia (umat Muhammad SAW) berbuat dosa, maka Allah tetap memberikan empat anugerah padanya, yaitu:
Pertama, ia tidak terhalang untuk mendapatkan rezeki;
Kedua, ia tidak terhalang untuk mendapatkan kesehatan badan;
Ketiga, Allah tidak akan memperlihatkan dosanya selama di dunia;
Keempat, Allah tidak serta-merta mengazabnya.

Diriwayatkan bahwa Nabi Adam AS telah berkata, “Allah memberikan empat macam kemuliaan kepada umat Muhammad yang tidak Allah berikan kepadaku, yaitu:

1. Allah menerima taubatku di Makkah, sedangkan umat Muhammad diterima taubatnya dimana pun ia berada;

2. Ketika aku melakukan dosa, Allah menghilangkan pakaianku seketika, sedangkan umat Muhammad tetap diberi pakaian meskipun durhaka pada Allah;

3. Ketika aku berbuat dosa, Allah pisahkan aku dengan istriku, sedangkan umat Muhammad ketika ia berbuat dosa tidak dipisahkan dengan istrinya;

4. Aku berbuat dosa di surga, lalu Allah mengusirku dari surga ke dunia, sedangkan umat Muhammad yang berbuat dosa di luar surga, lalu Allah memasukkan mereka ke surga bila mereka mau bertaubat.

Itulah empat keutamaan umat Nabi Muhammad SAW yang manusia pertama saja tidak mendapatkannya. Marilah bersama perbaiki diri agar kita layak mendapatkan nikmat Allah. Wallahu a’lam.

- H.M. Sibawaeh, S.Pd -
dalam HIKMAH - SMPN 7 Mataram

Senin, 06 Februari 2017

Persyaratan Pengajuan Kartu Istri / Suami (KARIS/KARSU)


Persyaratan Pengajuan Kartu Istri / Suami (KARIS/KARSU) 

1. Formulir Laporan Perkawinan Pertama  – download file *)
2. Fotocopy Surat Nikah
3. Fotocopy SK CPNS *)
4. Fotocopy SK PNS 100%  *)
5. Fotocopy SK Terakhir  *)
6. Fotocopy SK Konversi NIP *)
7. Foto Suami / Istri hitam putih (2×3 cm) sebanyak 4 lembar

*) jumlah 2 lembar dilegalisir

Kantor Regional X BKN Denpasar
(Wilayah kerja meliputi Provinsi Bali, NTB dan NTT) 

add facebook
รจ Kantor Regional X BKN Denpasar

Rabu, 01 Februari 2017

LATIHAN UNBK SMA/SMK/MA 2016/2017


  LATIHAN UNBK SMA/SMK/MA 2016/2017
 
SILAHKAN COPY/KLIK LINK BERIKUT KEMUDIAN DOWNLOAD =>

1. http://uncbt.com/bank-soal-un-sma/
2. http://www.wirahadie.com/2016/02/aplikasi-latihan-ujian-nasional-lengkap.html


SEMOGA BERMANFAAT.


LATIHAN UNBK SMP/MTs 2016/2017

 
LATIHAN UNBK SMP/MTs 2016/2017
SILAHKAN COPY/KLIK LINK BERIKUT KEMUDIAN DOWNLOAD =>

1. http://cbt.smppgrisatubdl.com/pages/listsoal.php
2. http://ainamulyana.blogspot.com/2015/10/soal-dan-kunci-jawab-latihan-un-smp.html

Selasa, 31 Januari 2017

PRINSIP PEMBELAJARAN - “Perlunya Perubahan Paradigma Tentang Mengajar”

PRINSIP PEMBELAJARAN
“Perlunya Perubahan Paradigma Tentang Mengajar”


Kompetensi guru sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 8 undang-undang guru dan dosen meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Keempat kompetensi tersebut dideskripsikan sebagai berikut :
                                         
  1. Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, sekurang-kurangnya meliputi (1) pemahaman wawasan atau landasan kependidikan, (2) pemahaman terhadap peserta didik, (3) pengembangan kurikulum/ silabus, (4) perancangan pembelajaran, (5) pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis, (6) pemanfaatan teknologi pembelajaran, (7) evaluasi proses dan hasil belajar, dan (8) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya;
  2. Kompetensi kepribadian sekurang-kurangnya mencakup (1) berakhlak mulia, (2) arif dan bijaksana, (3) mantap, (4) berwibawa, (5) stabil, (6) dewasa, (7) jujur, (8) mampu menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, (9) secara objektif mengevaluasi kinerja sendiri, dan (10) mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan;
  3. Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat, sekurang-kurangnya meliputi (1) berkomunikasi lisan, tulisan, dan/atau isyarat, (2) menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional,(3) bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, orang tua/wali peserta didik, (4) bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma serta sistem nilai yang berlaku, dan (5) menerapkan prinsip-prinsip persaudaraan dan semangat kebersamaan;
  4. Kompetensi profesional merupakan kemampuan guru dalam menguasai pengetahuan bidang ilmu, teknologi, dan/atau seni yang sekurang-kurang meliputi penguasaan (1) materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai standar isi program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang diampunya, dan (2) konsep-konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, atau seni yang relevan yang secara konseptual menaungi atau koheren dengan program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang diampu.


Rabu, 05 Oktober 2016

Keutamaan dan Amalan di Bulan Muharram

Keutamaan dan Amalan di Bulan Muharram

Bulan Muharram (ilustrasi)


























Berikut keutamaan dan amalan di bulan Muharram :

1. Termasuk Empat Bulan Haram (Suci)

Allah berfirman,

ุฅِู†َّ ุนِุฏَّุฉَ ุงู„ุดُّู‡ُูˆุฑِ ุนِู†ْุฏَ ุงู„ู„َّู‡ِ ุงุซْู†َุง ุนَุดَุฑَ ุดَู‡ْุฑًุง ูِูŠ ูƒِุชَุงุจِ ุงู„ู„َّู‡ِ ูŠَูˆْู…َ ุฎَู„َู‚َ ุงู„ุณَّู…َุงูˆَุงุชِ ูˆَุงู„ْุฃَุฑْุถَ ู…ِู†ْู‡َุง ุฃุฑْุจَุนَุฉٌ ุญُุฑُู…ٌ ุฐَู„ِูƒَ ุงู„ุฏِّูŠู†ُ ุงู„ْู‚َูŠِّู…ُ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus..” (QS. At-Taubah: 36)

Yang dimaksud empat bulan haram adalah bulan Dzul Qa’dah, Dzulhijjah, Muharram (tiga bulan ini berurutan), dan Rajab. Pada bulan-bulan ini, masyarakat Arab dilarang berperang karena disucikannya keempat bulan tersebut. Oleh karena itu, ia juga dinamakan Syahrullah Asham ุดู‡ุฑ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฃุตู…, yang artinya Bulan Allah yang Sunyi karena larangan berperang itu.

Dari Abu Bakrah radhiallahu‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ุงู„ุฒَّู…َุงู†ُ ู‚َุฏِ ุงุณْุชَุฏَุงุฑَ ูƒَู‡َูŠْุฆَุชِู‡ِ ูŠَูˆْู…َ ุฎَู„َู‚َ ุงู„ุณَّู…َูˆَุงุชِ ูˆَุงู„ุฃَุฑْุถَ ، ุงู„ุณَّู†َุฉُ ุงุซْู†َุง ุนَุดَุฑَ ุดَู‡ْุฑًุง ، ู…ِู†ْู‡َุง ุฃَุฑْุจَุนَุฉٌ ุญُุฑُู…ٌ ، ุซَู„ุงَุซَุฉٌ ู…ُุชَูˆَุงู„ِูŠَุงุชٌ ุฐُูˆ ุงู„ْู‚َุนْุฏَุฉِ ูˆَุฐُูˆ ุงู„ْุญِุฌَّุฉِ ูˆَุงู„ْู…ُุญَุฑَّู…ُ ، ูˆَุฑَุฌَุจُ ู…ُุถَุฑَ ุงู„َّุฐِู‰ ุจَูŠْู†َ ุฌُู…َุงุฏَู‰ ูˆَุดَุนْุจَุงู†َ

“Sesungguhnya zaman berputar sebagai mana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan: Dzul Qo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar, antara Jumadi Tsani dan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

2. Dinamakan Syahrullah atau Bulan Allah

Dari Abu Hurairah radhiallahu‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ุฃูุถู„ ุงู„ุตูŠุงู… ุจุนุฏ ุฑู…ุถุงู† ุดู‡ุฑ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ู…ุญุฑู…

“Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim)

Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam An Nawawi menyebutkan bahwa, “Hadits ini menunjukkan bahwa Muharram adalah bulan yang paling mulia untuk melaksanakan puasa sunnah.” Sementara Imam As Suyuthi menjelaskan bahwa  berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Nama-nama bulan lainnya sudah ada di zaman jahiliyah. Sementara dulu, orang jahiliyah menyebut bulan Muharram ini dengan nama Shafar Awwal. Kemudian ketika Islam datanng, Allah ganti nama bulan ini dengan Al Muharram, sehingga nama bulan ini Allah sandarkan kepada dirinya (Syahrullah).

3. Bulan Kemenangan Musa atas Firaun

Dari Ibnu Abbas radhiallahu‘anhuma, beliau menceritakan,

ู„َู…َّุง ู‚َุฏِู…َ ุงู„ْู…َุฏِูŠู†َุฉَ ูˆَุฌَุฏَู‡ُู…ْ ูŠَุตُูˆู…ُูˆู†َ ูŠَูˆْู…ًุง ، ูŠَุนْู†ِู‰ ุนَุงุดُูˆุฑَุงุกَ ، ูَู‚َุงู„ُูˆุง ู‡َุฐَุง ูŠَูˆْู…ٌ ุนَุธِูŠู…ٌ ، ูˆَู‡ْูˆَ ูŠَูˆْู…ٌ ู†َุฌَّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ูِูŠู‡ِ ู…ُูˆุณَู‰ ، ูˆَุฃَุบْุฑَู‚َ ุขู„َ ูِุฑْุนَูˆْู†َ ، ูَุตَุงู…َ ู…ُูˆุณَู‰ ุดُูƒْุฑًุง ู„ِู„َّู‡ِ . ูَู‚َุงู„َ « ุฃَู†َุง ุฃَูˆْู„َู‰ ุจِู…ُูˆุณَู‰ ู…ِู†ْู‡ُู…ْ » . ูَุตَุงู…َู‡ُ ูˆَุฃَู…َุฑَ ุจِุตِูŠَุงู…ِู‡ِ

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura’. Beliau bertanya, “Hari apa ini?” Mereka menjawab, “Hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, sehingga Musa-pun berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur kepada Allah. Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami (kaum muslimin) lebih layak menghormati Musa dari pada kalian.” kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk puasa. (HR. Al Bukhari)

4. Disunnahkan Puasa Asyura

Pada hari Asyura tersebut, tanggal 10 Muharram, disunnahkan untuk melaksanakan puasa.

Dari Humaid bin Abdir Rahman, ia mendengar Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu ‘Anhu berkata: Wahai penduduk Madinah, di mana ulama kalian? Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ini hari Asyura, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mewajibkan shaum kepada kalian di hari itu, sedangkan saya shaum, maka siapa yang mau shaum hendaklah ia shaum dan siapa yang mau berbuka hendaklah ia berbuka.” (HR Bukhari 2003)

Adapun keutamaan shaum tersebut sebagaimana diriwayatkan dalam hadits dari Abu Qatadah, bahwa shaum tersebut bisa menghapus dosa-dosa kita selama setahun yang telah lalu (HR Muslim 2/819)

Imam An Nawawi ketika menjelaskan hadits di atas beliau berkata: “Yang dimaksud dengan kaffarat (penebus) dosa adalah dosa-dosa kecil, akan tetapi jika orang tersebut tidak memiliki dosa-dosa kecil diharapkan dengan shaum tersebut dosa-dosa besarnya diringankan, dan jika ia pun tidak memiliki dosa-dosa besar, Allah akan mengangkat derajat orang tersebut di sisi-Nya.”

5. Disunnahkan Puasa Tasua untuk Berbeda dengan Yahudi

Rasulullah memerintahkan untuk berpuasa tanggal 9 Muharram untuk membedakan diri dengan orang Yahudi yang hanya melaksanakan puasa tanggal 10 Muharram.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shaum Assyura dan memerintah para sahabat untuk melaksanakannnya, mereka berkata, “Wahai Rasulullah hari tersebut (assyura) adalah hari yang diagung-agungkan oleh kaum Yahudi dan Nashrani”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Insya Allah jika sampai tahun yang akan datang aku akan shaum pada hari kesembilannya”. Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal sebelum sampai tahun berikutnya” (HR Muslim 1134)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shaumlah kalian pada hari assyura dan berbedalah dengan orang Yahudi. Shaumlah kalian sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.” (HR Ath-Thahawy dan Baihaqy serta Ibnu Huzaimah 2095)

6. Puasa Sunnah tanggal 11 Muharram

Sebagian ulama berpendapat, dianjurkan melaksanakan puasa tanggal 11 Muharram, setelah puasa Asyura’.

ุตูˆู…ูˆุง ูŠูˆู… ุนุงุดูˆุฑุงุก ูˆุฎุงู„ููˆุง ููŠู‡ ุงู„ูŠู‡ูˆุฏ ูˆุตูˆู…ูˆุง ู‚ุจู„ู‡ ูŠูˆู…ุง ุฃูˆ ุจุนุฏู‡ ูŠูˆู…ุง

“Puasalah hari Asyura’ dan jangan sama dengan model orang Yahudi. Puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.” (HR. Ahmad, Al Bazzar).

Hadis ini dihasankan oleh Syaikh Ahmad Syakir. Hadis ini juga dikuatkan hadis lain, yang diriwayatkan Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra dengan lafadz:

ุตูˆู…ูˆุง ู‚ุจู„ู‡ ูŠูˆู…ุงً ูˆุจุนุฏู‡ ูŠูˆู…ุงً

“Puasalah sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya.”

Menurut Syaikh Al Albani dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth, hadits ini dha’if. Sementara Imam Ahmad mengatakan, “Jika awal bulan Muharram tidak jelas maka sebaiknya puasa tiga hari: (tanggal 9, 10, dan 11 Muharram), Ibnu Sirrin menjelaskan demikian. Beliau mempraktekkan hal itu agar lebih yakin untuk mendapatkan puasa tanggal 9 dan 10.” Wallahua'lam


red: syaiful
sumber: fimadani

Senin, 01 Juni 2015

Kelebihan dan Amaliyah bulan Sya'ban dan Nishf Sya'ban

Kelebihan dan Amaliyah bulan Sya'ban dan Nishf Sya'ban


PENDAHULUAN
 
Tidak terasa perputaran waktu dalam tahun hijriah telah memasuki bulan ke delapan. Salah satu bulan yang diagungkan dan mempunyai kelebihan tersendiri dalam kalender Islam, yaitu bulan Sya’ban. Nabi Muhammad SAW bersabda :
ุดุนุจุงู† ุดู‡ุฑู‰ ูˆุฑู…ุถุงู† ุดู‡ุฑ ุงู„ู„ู‡ ูˆุดุนุจุงู† ุงู„ู…ุทู‡ุฑ ูˆุฑู…ุถุงู† ุงู„ู…ูƒูุฑ[1] (ุงู„ุฏูŠู„ู…ู‰ ุนู† ุนุงุฆุดุฉ)
Sya’ban adalah bulanku, Ramadhan adalah bulan Allah. Sya’ban adalah bulan yang menyucikan dan Ramadhan adalah bulan penghapusan dosa” (HR. Imam al-Dailami)

Dinamakan dengan Sya’ban dikarenakan dalam bulan itu terpancar bercabang-cabang kebaikan yang banyak bagi bulan Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda :
ุนู† ุฃู†ุณ ู‚ุงู„  :ู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุชุฏุฑูˆู† ู„ู… ุณู…ูŠ ุดุนุจุงู† ุดุนุจุงู† ู„ุฃู†ู‡ ูŠุชุดุนุจ ููŠู‡ ู„ุฑู…ุถุงู† ุฎูŠุฑ ูƒุซูŠุฑ[2]
Tahukah kalian mengapa bulan Sya’ban dinamakan dengan Sya’ban? Karena dalam bulan Sya’ban bercabang-cabang kebaikan yang banyak bagi bulan Ramadhan”.

Dalam pendapat lain, Ibnu Manzhur mengutip perkataan Tsa’lab yang mengatakan bahwa sebagian ulama berpendapat bulan tersebut dinamakan dengan Sya’ban karena ia sya’ab, artinya zhahir (menonjol) di antara dua bulan, yaitu bulan Rajab dan bulan Ramadhan.[3]

            Telah menjadi suatu tradisi ketika memasuki bulan Sya’ban, masyarakat muslim di Indonesia mempersiapkan diri dalam upaya peningkatan amal ibadahnya, seolah-olah bulan Sya’ban menjadi fase pemanasan beribadah untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Mulai dari rutinitas puasa sunat semenjak awal Sya’ban hingga pelaksanaan shalat tasbih  dan yasinan pada malam pertengahan bulan (nishfu Sya’ban).

Karena itu, pemahaman kembali pada tradisi yang tidak terlepas dari anjuran agama ini merupakan suatu keniscayaan. Dan, tentu saja menyikapinya pun harus secara arif dan bijaksana. 

PEMBAHASAN

Dalam tulisan ini, ada beberapa hal yang perlu kita ketahui menyangkut dengan bulan Sya’ban dan rutinitas ibadah yang terdapat di dalamnya. Secara singkat, kami mencoba untuk menguraikannya sebagai berikut :


BULAN SYA`BAN DAN KELEBIHANNYA

Bulan Sya’ban mengandung nilai keagungan yang tinggi dalam sistem penanggalan tahun Islam, baik dalam perputaran sejarah maupun esensi nilai ibadah yang terkandung di dalamnya. Indikasinya bisa kita telisik sedikit dari beberapa hal berikut ini :
  1. Dalam bulan Sya’ban (bertepatan hari Selasa pada 15 Sya’ban) Allah SWT memerintahkan perubahan kiblat dari Bait al-Muqaddis ke Ka’bah Baitullah.[4]
  2. Dalam bulan Sya’ban Allah SWT menurunkan ayat perintah bershalawat kepada Rasulullah SAW[5], yaitu :
ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ูˆَู…َู„َุงุฆِูƒَุชَู‡ُ ูŠُุตَู„ُّูˆู†َ ุนَู„َู‰ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ูŠَุงุฃَูŠُّู‡َุงุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุงุตَู„ُّูˆุงุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„ِّู…ُูˆุงุชَุณْู„ِูŠู…ًุง
Sesungguhnya Allah SWT dan malaikat-malaikat Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (QS. al-Ahzab : 56)
  • Bulan Sya’ban adalah bulan dimana Nabi SAW paling banyak melakukan puasa. ‘Aisyah meriwayatkan :
ูƒุงู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠุตูˆู… ุญุชู‰ ู†ู‚ูˆู„ ู„ุง ูŠูุทุฑ ูˆูŠูุทุฑ ุญุชู‰ ู†ู‚ูˆู„ ู„ุง ูŠุตูˆู… ูˆู…ุง ุฑุฃูŠุช ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุงุณุชูƒู…ู„ ุตูŠุงู… ุดู‡ุฑ ู‚ุท ุฅู„ุง ุฑู…ุถุงู† ูˆู…ุง ุฑุฃูŠุชู‡ ููŠ ุดู‡ุฑ ุฃูƒุซุฑ ู…ู†ู‡ ุตูŠุงู…ุง ููŠ ุดุนุจุงู†[6]
Adalah Rasulullah SAW berpuasa sehingga kami mengatakan bahwa beliau tidak berbuka dan beliau berbuka sehingga kami mengatakan bahwa beliau tidak berpuasa. Dan tidak pernah sama sekali saya melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasa sebulan kecuali Ramadhan dan tidak pernah saya melihat beliau lebih banyak berpuasa dalam sebulan yang lebih banyak daripada bulan Sya`ban”. (HR. Imam Muslim)
  • Bulan Sya’ban juga merupakan bulan diangkatnya amal manusia kepada Allah SWT. Nabi SAW bersabda :
ุนู† ุฃุณุงู…ุฉ ุจู† ุฒูŠุฏ ู‚ุงู„ : ู‚ู„ุช ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุฅู†ูŠ ุฃุฑุงูƒ ุชุตูˆู… ููŠ ุดู‡ุฑ ู…ุง ู„ุง ุฃุฑุงูƒ ุชุตูˆู… ููŠ ุดู‡ุฑ، ู…ุง ุชุตูˆู… ููŠู‡؟ ู‚ุงู„: ุฃูŠ ุดู‡ุฑ؟ ู‚ู„ุช : ุดุนุจุงู† ู‚ุงู„: ุดุนุจุงู† ุจูŠู† ุฑุฌุจ ูˆุดู‡ุฑ ุฑู…ุถุงู† ูŠุบูู„ ุงู„ู†ุงุณ ุนู†ู‡، ุชุฑูุน ููŠู‡ ุฃุนู…ุงู„ ุงู„ุนุจุงุฏ، ูุฃุญุจ ุฃู† ู„ุง ูŠุฑูุน ุนู…ู„ูŠ ุฅู„ุง ูˆุฃู†ุง ุตุงุฆู…، ู‚ู„ุช : ุฃุฑุงูƒ ุชุตูˆู… ูŠูˆู… ุงู„ุงุซู†ูŠู† ูˆุงู„ุฎู…ูŠุณ ูˆู„ุง ุชุฏุนู‡ู…ุง ู‚ุงู„: ุฅู† ุฃุนู…ุงู„ ุงู„ุนุจุงุฏ ุชุฑูุน ููŠู‡ู…ุง ูุฃุญุจ ุฃู† ู„ุง ูŠุฑูุน ุนู…ู„ูŠ ุฅู„ุง ูˆุฃู†ุง ุตุงุฆู…[7]
Dari Usamah bin Zaid, beliau berkata : Saya berkata : “Ya Rasulullah, saya melihat engkau berpuasa dalam sebulan yang tidak saya lihat engkau berpuasa seperti demikian dalam bulan yang lain”. Rasulullah SAW berkata : “Bulan mana?” Saya berkata : “Bulan Sya`ban”. Rasul SAW menjawab : “Bulan Sya`ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang banyak di manusia lalai darinya. Dalam bulan Sya`ban di angkat amalan manusia, maka aku cintai tidak di angkatkan amalanku kecuali sedangkan aku dalam keadaan berpuasa”. Saya berkata: “Saya melihat engkau berpusa hari Senin dan Kamis dan tidak engkau tinggalkan keduanya”. Rasul SAW menjawab : “Sesungguhnya amalan hamba di angkat dalam kedua hari tersebut, maka aku cintai tidak di angkatkan amalanku kecuali sedangkan aku dalam keadaan berpuasa”. (HR. Imam al-Baihaqi)
Dalam hadits ini Rasulullah SAW menerangkan bahwa banyak manusia yang lengah di bulan Sya’ban karena sibuk dan merasa cukup dengan dua bulan mulia yang mengapit bulan Sya’ban, yaitu bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Melakukan ibadat pada waktu orang lain lalai, memiliki kelebihan tersendiri sebagaimana di terangkan oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami.[8]

  1. KEUTAMAAN NISHFU SYA’BAN DAN AMALAN DI DALAMNYA.
Salah satu keistimewaan bulan Sya’ban adalah adanya malam nishfu Sya’ban yang merupakan malam termulia setelah malam Lailatul-Qadar. Sebagian ulama mengatakan bahwa kemulian bulan Rajab terletak pada 10 awalnya, bulan Sya’ban terletak pada 10 yang kedua dan bulan Ramadhan terletak pada 10 yang terakhir.[9]

Kelompok yang pertama sekali membesarkan malam nishfu Sya’ban dengan rutinitas ibadah yang lebih banyak dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya  adalah para tabi’in dari negeri Syam seperti Imam Khalid bin Ma`dan, Imam Makhul, Imam Luqman bin ‘Amir dan lainnya. Sebagian dari mereka menghidupkan malam nishfu Sya’ban dengan berjamaah di mesjid dengan memakai pakaian yang bagus. Ketika hal ini menyebar, para ulama berbeda pendapat dalam menanggapinya. Sebagian ulama menerimanya seperti ulama negeri Bashrah dan lainnya, sedangkan sebagian ulama Mekkah seperti Imam ‘Atha` dan Imam Ibnu Abi Malikah serta fuqaha Madinah mengingkarinya. Imam Ishaq Rahawaih berpendapat bahwa hal tersebut bukanlah bid’ah sedangkan Imam Auza’i menganggap makruh menghidupkannya secara berjamaah tetapi tidak makruh secara sendiri. [10]

Malam nishfu sya’ban dapat dikategorikan sebagai salah satu malam yang baik untuk beribadat dan berdoa dikarenakan keumuman dalil dimana setiap malam ada satu saat yang mustajabah doa.
Rasulullah SAW bersabda :
ุนَู†ْ ุฌَุงุจِุฑٍ ู‚َุงู„َ ุณَู…ِุนْุชُ ุงู„ู†َّุจِูŠَّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูŠَู‚ُูˆู„ُ ุฅِู†َّ ูِูŠ ุงู„ู„َّูŠْู„ِ ู„َุณَุงุนَุฉً ู„َุง ูŠُูˆَุงูِู‚ُู‡َุง ุนَุจْุฏٌ ู…ُุณْู„ِู…ٌ ูŠَุณْุฃَู„ُ ุงู„ู„َّู‡َ ุฎَูŠْุฑًุง ุฅِู„َّุง ุฃَุนْุทَุงู‡ُ ุฅِูŠَّุงู‡ُ ูˆَุฐَู„ِูƒَ ูƒُู„َّ ู„َูŠْู„َุฉٍ[11]
Dari Jabir, beliau berkata : “Saya mendengar Rasulullah SAW berkata bahwa dalam setiap malam terdapat satu waktu yang tidak ada hamba muslim berbetulan dengan nya dimana ia meminta kebaikan kepada Allah SWT melainkan Allah SWT mengabulkan permintaannya, dan hal tersebut pada setiap malam”. (HR. Imam Muslim)

Selain itu, banyak juga dalil-dalil khusus yang menunjuki kelebihan malam nishfu Sya’ban walaupun sebagian hadits tersebut dha’if, namun sebagiannya juga dianggap shahih oleh Imam Ibnu Hibban[12] dan sebagian lainnya dikuatkan dengan adanya periwayatan pada thariq-thariq yang lain yang berfungsi sebagai muttabi’ dan syawahid sehingga beberapa hadits tersebut naik derajatnya menjadi hasan. Lagipula, hadits dha’if boleh diamalkan untuk fadhail-a’mal dengan catatan tidak terlalu dha’if. Bahkan Imam al-Ramli mengatakan bahwa Imam al-Nawawi dalam beberapa karangan beliau menceritakan tentang  adanya ijma’ ulama tentang kebolehan beramal dengan hadits dha’if pada permasalahan fadhail-a’mal (keutamaan beramal).[13] Selanjutnya, Imam Husain Muhammad ‘Ali Makhlul al-‘Adawy mengatakan bahwa hadits-hadits tentang kelebihan malam nishfu Sya’ban serta kelebihan menghidupkan malam tersebut merupakan hadits yang boleh di amalkan pada fadhail-a’mal.[14]
Diantara dalil-dalil khusus tersebut antara lain :
  • Hadits riwayat Imam al-Thabrani dan Imam Ibnu Hibban :
ูŠุทู„ุน ุงู„ู„ู‡ ุฅู„ู‰ ุฌู…ูŠุน ุฎู„ู‚ู‡ ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ู†ุตู ู…ู† ุดุนุจุงู† ูˆูŠุบูุฑ ู„ุฌู…ูŠุน ุฎู„ู‚ู‡ ุฅู„ุง ู„ู…ุดุฑูƒ ุฃูˆ ู…ุดุงุญู†[15](ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุทุจุฑุงู†ูŠ ูˆุงุจู† ุญุจุงู† ููŠ ุตุญูŠุญู‡)
Allah SWT memandang sekalian makhluk-Nya pada malam nishfu Sya’ban dan Allah SWT mengampuni sekalian makhluknya kecuali yang musyrik dan yang memiliki dendam”.
  • Hadits riwayat Imam Ibnu Majah :
ุนู† ุนู„ูŠ ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฅุฐุง ูƒุงู† ู„ูŠู„ุฉ ู†ุตู ุดุนุจุงู† ูู‚ูˆู…ูˆุง ู„ูŠู„ู‡ุง ูˆุตูˆู…ูˆุง ู†ู‡ุงุฑู‡ุง ูุฅู† ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ูŠู†ุฒู„ ููŠู‡ุง ู„ุบุฑูˆุจ ุงู„ุดู…ุณ ุฅู„ู‰ ุงู„ุณู…ุงุก ุงู„ุฏู†ูŠุง ููŠู‚ูˆู„: ุฃู„ุง ู…ุณุชุบูุฑ ูุฃุบูุฑ ู„ู‡ ุฃู„ุง ู…ุณุชุฑุฒู‚ ูุฃุฑุฒู‚ู‡ ุฃู„ุง ู…ุจุชู„ูŠ ูุฃุนุงููŠู‡ ุฃู„ุง ูƒุฐุง ุฃู„ุง ูƒุฐุง ุญุชู‰ ูŠุทู„ุน ุงู„ูุฌุฑ[16]
Apabila tiba malam nishfu Sya’ban maka shalatlah pada malam harinya dan berpuasalah pada siang harinya, karena (rahmat) Allah SWT akan turun ke langit dunia pada saat tersebut sejak terbenam matahari dan Allah SWT berfirman : “Adakah ada orang yang meminta ampun, maka akan Aku ampunkan, adakah yang meminta rezeki, maka akan Ku berikan rezeki untuknya, adakah orang yang terkena musibah maka akan Aku lindungi, adakah sedemikian, adakah sedemikian, hingga terbit fajar”.
  • Hadits riwayat ‘Aisyah:
ุนู† ุนุงุฆุดุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง ู‚ุงู„ุช ูู‚ุฏุช ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูุฎุฑุฌุช ูุฅุฐุง ู‡ูˆ ุจุงู„ุจู‚ูŠุน ุฑุงูุนุง ุฑุฃุณู‡ ุฅู„ู‰ ุงู„ุณู…ุงุก ูู‚ุงู„: ุฃูƒู†ุช ุชุฎุงููŠู† ุฃู† ูŠุญูŠู ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠูƒ ูˆุฑุณูˆู„ู‡ ูู‚ู„ุช ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุธู†ู†ุช ุฃู†ูƒ ุฃุชูŠุช ุจุนุถ ู†ุณุงุฆูƒ ูู‚ุงู„: ุฅู† ุงู„ู„ู‡ ุชุจุงุฑูƒ ูˆุชุนุงู„ู‰ ูŠู†ุฒู„ ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ู†ุตู ู…ู† ุดุนุจุงู† ุฅู„ู‰ ุงู„ุณู…ุงุก ุงู„ุฏู†ูŠุง ููŠุบูุฑ ู„ุฃูƒุซุฑ ู…ู† ุนุฏุฏ ุดุนุฑ ุบู†ู… ูƒู„ุจ[17]
“Berkatalah ‘Aisyah :”Saya kehilangan Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau berada di Baqi’ sambil mengangkat kepala ke langit”. Beliau berkata: “Apakah engkau takut engkau dizalimi oleh Allah dan Rasul-Nya?” Saya menjawab: “Ya Rasulullah, saya menyangka engkau mendatangi sebagian istri engkau”. Beliau berkata : “Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi turun pada malam nishfu Sya’ban ke langit dunia, maka Allah SWT mengampunkannya lebih banyak dari bulu domba Bani Kalab”. (HR. Imam Ahmad)
  • Hadits riwayat Imam al-Baihaqi :
 ู‡ู„ ุชุฏุฑูŠู† ู…ุง ููŠ ู‡ุฐู‡ ุงู„ู„ูŠู„ุฉ؟ ู‚ุงู„ุช: ู…ุง ููŠู‡ุง ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡؟ ูู‚ุงู„: ููŠู‡ุง ุฃู† ูŠูƒุชุจ ูƒู„ ู…ูˆู„ูˆุฏ ู…ู† ุจู†ูŠ ุขุฏู… ููŠ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุณู†ุฉ، ูˆููŠู‡ุง ุฃู† ูŠูƒุชุจ ูƒู„ ู‡ุงู„ูƒ ู…ู† ุจู†ูŠ ุขุฏู… ููŠ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุณู†ุฉ، ูˆููŠู‡ุง ุชุฑูุน ุฃุนู…ุงู„ู‡ู…، ูˆููŠู‡ุง ุชู†ุฒู„ ุฃุฑุฒุงู‚ู‡ู……[18]
Rasululah berkata :”Adakah kamu ketahui kejadian pada malam ini?” ‘Aisyah menjawab :”Apa yang terjadi pada malam ini, ya Rasulullah?” Beliau menjawab :”Pada malam ini dituliskan semua anak yang akan lahir pada tahun ini dari keturunan Adam, pada malam ini dituliskan semua orang yang akan mati pada tahun ini, pada malam ini diangkat amalan manusia dan pada malam ini diturunkan rezeki mereka…”.
Selanjutnya, para ulama juga berkomentar tentang kelebihan malam nishfu Sya’ban, diantaranya adalah :
  • Riwayat yang menceritakan bahwa ‘Umar bin Abdul Aziz mengirim surat kepada pegawai beliau di Bashrah:
ุนู„ูŠูƒ ุจุฃุฑุจุน ู„ูŠุงู„ ู…ู† ุงู„ุณู†ุฉ ูุฅู† ุงู„ู„ู‡ ูŠูุฑุบ ููŠู‡ู† ุงู„ุฑุญู…ุฉ ุฅูุฑุงุบุง ุฃูˆู„ ู„ูŠู„ุฉ ู…ู† ุฑุฌุจ ูˆู„ูŠู„ุฉ ุงู„ู†ุตู ู…ู† ุดุนุจุงู† ูˆู„ูŠู„ุฉ ุงู„ูุทุฑ ูˆู„ูŠู„ุฉ ุงู„ุฃุถุญู‰[19]
“Lazimkanlah empat malam dalam setahun karena sesungguhnya Allah memenuhi padanya dengan rahmat Nya, yaitu awal malam dari Rajab, malam nishfu Sya’ban, malam ‘idul-fithri, malam ‘idul-adha”.
  • Imam al-Syafi’i mengatakan:
ุจู„ุบู†ุง ุฃู†ู‡ ูƒุงู† ูŠู‚ุงู„ ุฅู† ุงู„ุฏุนุงุก ูŠุณุชุฌุงุจ ููŠ ุฎู…ุณ ู„ูŠุงู„ ููŠ ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ุฌู…ุนุฉ ูˆู„ูŠู„ุฉ ุงู„ุฃุถุญู‰ ูˆู„ูŠู„ุฉ ุงู„ูุทุฑ ูˆุฃูˆู„ ู„ูŠู„ุฉ ู…ู† ุฑุฌุจ ูˆู„ูŠู„ุฉ ุงู„ู†ุตู ู…ู† ุดุนุจุงู†[20]
Telah sampai riwayat kepada kami bahwa dikatakan do`a dikabulkan pada lima malam, yaitu pada malam Jum`at, malam hari raya adha, malam hari raya fithri, awal malam bulan Rajab dan malam nishfu Sya`ban.
  • Imam il-Taqi al-Subki mengatakan:
ุฃู† ุงุญูŠุงุก ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ู†ุตู ู…ู† ุดุนุจุงู† ูŠูƒูุฑ ุฐู†ูˆุจ ุงู„ุณู†ุฉ ูˆู„ูŠู„ุฉ ุฌู…ุนุฉ ุชูƒูุฑ ุฐู†ูˆุจ ุงู„ุฃุณุจูˆุน ูˆู„ูŠู„ุฉ ุงู„ู‚ุฏุฑ ุชูƒูุฑ ุฐู†ูˆุจ ุงู„ุนู…ุฑ[21]
Menghidupkan malam nishfu Sya’ban diampunkan dosa setahun, menghidupkan malam Jum’at diampunkan dosa seminggu dan menghidupkan malam Qadar di ampunkan dosa seumur hidup”.

Dan masih banyak lagi keterangan para ulama tentang kelebihan malam nishfu Sya’ban, bahkan Ibnu Taimiyah sekalipun mengakui kelebihan beramal dan berkumpul untuk beribadat pada malam nishfu Sya’ban walaupun terdapat beberapa hadits maudhu’ tentang hal tersebut.[22]

Nama-nama malam Nishfu Sya'ban

Dalam menunjuki kemuliaan malam nishfu Sya’ban, para ulama menyebutkan beberapa nama bagi malam tersebut sebagaimana perkataan sebagian ulama:
ูƒุซุฑุฉ ุงู„ุงุณู…ุงุก ุชุฏู„ ุนู„ู‰ ุดุฑู ุงู„ู…ุณู…ู‰
“Banyak nama menunjuki kemulian zatnya”.

Imam Ahmad bin Isma’il bin Yusuf al-Thaliqani menyebutkan nama-nama malam nishfu Sya’ban hingga mencapai 22 nama, di antaranya :[23]
  1. Lailatul-Barakah artinya malam keberkahan (bertambah).
  2. Lailatul-Qasamah Wa Takdir, karena Allah SWT menunaikan satu urusan yang besar pada malam tersebut.
  3. Lailatul-Takfir (malam penghapusan) karena malam tersebut menghapus dosa.
  4. Lailatul-Ijabah (malam pengabulan doa) karena riwayat dari Ibnu ‘Umar bahwa malam tersebut do’a hamba tidak ditolak oleh Allah SWT.
  5. Lailatul-Hayyat (malam kehidupan) karena hadits riwayat Ishaq bahwa malaikat maut pada malam tersebut tidak mencabut nyawa seseorang antara Maghrib dan ‘Isya karena ia menerima buku amalan dari Allah SWT. Pendapat yang lain mengatakan karena Allah SWT tidak akan mematikan hati orang-orang yang menghidupkan malam tersebut.
  6. Lailatul-‘Idil-Malaikat (malam hari raya malaikat) karena malaikat juga memiliki dua malam hari raya seperti umat Islam memiliki dua hari raya ;‘idul-fithri dan ‘idhul-adha. Kedua hari raya malaikat tersebut adalah malam nishfu Sya’ban dan malam Qadar sebagaimana telah disebutkan oleh Imam ‘Abdullah Thahir bin Muhammad bin Ahmad Al-Haddad dalam kitabnya,  ‘Uyun al-Majalis.
  7. Lailatul-Syafa’ah (malam syafaat) karena diriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa ketika Rasul SAW shalat pada malam tersebut, turunlah malaikat Jibril dan berkata pada Rasulullah SAW: “Allah SWT telah membebaskan setengah dari ummat engkau dari api neraka”.
  8. Lailatul-Bara-ah (malam kelepasan) karena pada malam tersebut Allah SWT  menuliskan kelepasan orang mukmin dari api neraka.
  9. Lailatul-Jaizah (malam ganjaran) karena Allah SWT memerintahkan kepada surga untuk berhias bagi orang beriman sebagai balasan amal mereka.
10.  Lailatul-Nasakh (malan penulisan) karena ada riwayat dari ‘Atha’ bin Yasar yang mengatakan bahwa pada malam nishfu Sya’ban, malaikat maut menuliskan orang yang meninggal dari Sya’ban ini hingga Sya’ban tahun depan.
11.  Lailatul-al-‘Itqi Min al-Nar (malam kemerdekaan dari api neraka) karena pada malam tersebut Allah SWT memerdekakan banyak hamba-Nya dari api neraka.
12.  Lailatul-Rujhan (malam keunggulan). 
13.  Lailatu- Ta’zhim (malam keagungan). 
14.  Lailatul-Qadar (malam ketentuan). 
15.  Lailatul-Ghufran (malam pengampunan). 
16.  Lailatul-Rahmat (malam rahmat). 
17.  Lailatul-Shak (malam buku catatan). 
18.  Dan lain-lain. 

Kemudian, dalam hal serangkaian ibadah yang dikerjakan pada malam nishfu Sya’ban, Imam Ibnu Rajab al-Hanbali meriwayatkan :
ูƒุงู† ุงู„ู…ุณู„ู…ูˆู† ุฅุฐุง ุฏุฎู„ ุดุนุจุงู† ุงู†ูƒุจูˆุง ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุตุงุญู ูู‚ุฑุคู‡ุง ูˆุฃุฎุฑุฌูˆุง ุฒูƒุงุฉ ุฃู…ูˆุงู„ู‡ู… ุชู‚ูˆูŠุฉ ู„ู„ุถุนูŠู ูˆุงู„ู…ุณูƒูŠู† ุนู„ู‰ ุตูŠุงู… ุฑู…ุถุงู†[24]
Adalah umat muslim bila memasuki bulan Sya’ban mereka menekuni mushaf (al-Qur`an), mereka membacanya, mengeluarkan zakat harta mereka untuk menguatkan orang-orang yang lemah dan miskin untuk berpuasa dalam bulan Ramadhan”.

ู‚ุงู„ ุณู„ู…ุฉ ุจู† ูƒู‡ูŠู„: ูƒุงู† ูŠู‚ุงู„ ุดู‡ุฑ ุดุนุจุงู† ุดู‡ุฑ ุงู„ู‚ุฑุงุก ูˆูƒุงู† ุญุจูŠุจ ุจู† ุฃุจูŠ ุซุงุจุช ุฅุฐุง ุฏุฎู„ ุดุนุจุงู† ู‚ุงู„: ู‡ุฐุง ุดู‡ุฑ ุงู„ู‚ุฑุงุก[25]
Salmah bin Kuhail berkata :“Bulan Sya’ban disebutkan sebagai bulan qura` (pembaca al-Qur`an) dan adalah Habib bin Abi Tsabit bila masuk bulan Sya’ban beliau berkata :”Ini adalah bulan para pembaca al-Qur`an”.

ูƒุงู† ุนู…ุฑูˆ ุจู† ู‚ูŠุณ ุงู„ู…ู„ุงุฆูŠ ุฅุฐุง ุฏุฎู„ ุดุนุจุงู† ุฃุบู„ู‚ ุญุงู†ูˆุชู‡ ูˆุชูุฑุบ ู„ู‚ุฑุงุกุฉ ุงู„ู‚ุฑุขู†[26]
Adalah Amr bin Qais al-Mula-i ketika masuk bulan Sya’ban, ia mengunci pintu tokonya dan mencurahkan waktunya untuk membaca al-Qur`an”.

Imam al-Ramli pernah ditanyakan tentang puasa nishfu Sya`ban dan haditsnya :

( ุณุฆู„ ) ุนู† ุตูˆู… ู…ู†ุชุตู ุดุนุจุงู† ูƒู…ุง ุฑูˆุงู‡ ุงุจู† ู…ุงุฌู‡ ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃู†ู‡ ู‚ุงู„ { ุฅุฐุง ูƒุงู†ุช ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ู†ุตู ู…ู† ุดุนุจุงู† ูู‚ูˆู…ูˆุง ู„ูŠู„ู‡ุง ูˆุตูˆู…ูˆุง ู†ู‡ุงุฑู‡ุง } ู‡ู„ ู‡ูˆ ู…ุณุชุญุจ ุฃูˆ ู„ุง ูˆู‡ู„ ุงู„ุญุฏูŠุซ ุตุญูŠุญ ุฃูˆ ู„ุง ูˆุฅู† ูƒุงู† ุถุนูŠูุง ูู…ู† ุถุนูู‡ ؟( ูุฃุฌุงุจ ) ุจุฃู†ู‡ ูŠุณู† ุตูˆู… ู†ุตู ุดุนุจุงู† ุจู„ ูŠุณู† ุตูˆู… ุซุงู„ุซ ุนุดุฑู‡ ูˆุฑุงุจุน ุนุดุฑู‡ ูˆุฎุงู…ุณ ุนุดุฑู‡ ูˆุงู„ุญุฏูŠุซ ุงู„ู…ุฐูƒูˆุฑ ูŠุญุชุฌ ุจู‡[27]
Ditanyakan tentang puasa nishfu Sya`ban sebagaimana diriwayatkan dalam hadits riwayat Ibnu Majah dari Nabi SAW beliau berkata :”Apabila datang malam nishfu Sya`ban maka berdirilah pada malamnya dan berpuasalah pada harinya”.  Apakah puasa tersebut sunat atau tidak? Dan apakah hadits tersebut shahih atau tidak? Dan jika dhaif, maka siapa yang mendhaifkannya?” Maka beliau menjawab :”Disunatkan puasa pada nishfu Sya`ban bahkan disunatkan berpuasa hari ke 13, 14, dan 15. Sedangkan hadits tersebut bisa dijadikan hujjah”.

Imam al-Fasyani berkesimpulan :
ูˆุงู„ุญุงุตู„ ุฃู† ุฅุญูŠุงุก ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ู†ุตู ู…ุณุชุญุจ ู„ู…ุง ูˆุฑุฏ ููŠู‡ ู…ู† ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ูˆูŠูƒูˆู† ุฐู„ูƒ ุจุงู„ุตู„ุงุฉ ุจุบูŠุฑ ุชุนูŠูŠู† ุนุฏุฏ ู…ุฎุตูˆุต ูˆุจู‚ุฑุงุกุฉ ุงู„ู‚ุฑุขู† ูุฑุงุฏู‰ ูˆุจุฐูƒุฑ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ูˆุงู„ุฏุนุงุก ูˆุงู„ุชุณุจูŠุญ ูˆุงู„ุตู„ุงุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ّู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ّู… ุฌู…ุงุนุฉ ูˆูุฑุงุฏู‰ ูˆุจู‚ุฑุงุกุฉ ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ูˆุณู…ุงุนู‡ ูˆุนู‚ุฏ ุงู„ุฏุฑูˆุณ ูˆุงู„ู…ุฌุงู„ุณ ู„ู„ุชูุณูŠุฑ ูˆุดุฑุญ ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ูˆุงู„ูƒู„ุงู… ุนู„ู‰ ูุถุงุฆู„ ู‡ุฐู‡ ุงู„ู„ูŠู„ุฉ ูˆุญุถูˆุฑ ุชู„ูƒ ุงู„ู…ุฌุงู„ุณ ูˆุณู…ุงุนู‡ุง ูˆุบูŠุฑ ุฐู„ูƒ ู…ู† ุงู„ุนุจุงุฏุงุช[28]
Dan kesimpulannya bahwa menghidupkan malam nishfu Sya’ban disunatkan karena adanya beberapa hadits. Menghidupkan malam nishfu Sya’ban dapat dilakukan dengan shalat dengan tiada penentuan bilangan rakaat secara khusus, membaca al-Qur`an secara sendiri, berzikir, berdoa, bertasbih, bershalawat kepada Nabi secara sendiri dan berjamaah, pembacaan hadits, mendengarkannya, mengadakan pengajaran dan majelis bagi tafsir dan penjelasan hadits dan membicarakan kelebihan malam ini, menghadiri dan mendengarkan majlis tersebut dan amalan ibadah yang lain”.

Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa malam nishfu Sya’ban juga merupakan malam penuh rahmat, maka sudah sepatutnya kita bertaubat dan menjauhi kemaksiatan dalam malam tersebut, terlebih lagi ada beberapa riwayat yang menyebutkan pengecualian terhadap beberapa pelaku kemaksiatan yang bertobat sehingga mendapatkan keampunan pada malam tersebut.[29]


            Beberapa amalan-amalan shalih yang dapat dilakukan pada malam nishfu Sya’ban sebagaimana di terangkan oleh para ulama-ulama, antara lain :
  • Shalat sunat tasbih.
Para ulama menyebutkan bahwa yang lebih utama pada malam nishfu Sya’ban adalah melaksanakan shalat tasbih yang diajarkan Nabi SAW kepada paman beliau Sayyidina ‘Abbas ra.[30]
  • Shalat sunat awwabin.
Imam al-Zabidy mengatakan bahwa para ulama khalaf mewarisi rutinitas ibadah pada malam nishfu Sya’ban dari para ulama sebelumnya dengan melaksanakan shalat enam rakaat setelah shalat Maghrib, setiap dua rakaat satu kali salam. Pada tiap rakaat dibaca surat al-Fatihah dan al-Ikhlash sebanyak enam kali. Tiap selesai dari dua rakaat dilanjutkan dengan membaca surat Yasin, kemudian membaca doa nishfu Sya’ban yang masyhur. Pada pembacaan surat Yasin kali pertama, diniatkan supaya Allah SWT memberikan keberkahan umur. Pada kali kedua, meminta keberkahan rezeki, dan pada kali ketiga berdoa agar diberikan husnul-khatimah.[31]

Amalan ini masyhur disebutkan dalam kitab-kitab ulama sufi muta-akhirin, walaupun beliau belum menemukan dalil yang shahih dari hadits untuk  amalan tersebut. Namun, amalan tersebut merupakan amalan yang diamalkan oleh para guru-guru Imam al-Zabidi pada masa itu.[32]

Imam Muhammad Zaki Ibrahim memberikan keterangan tentang shalat tersebut :

ุฃู…َّุง ู…ุง ุชุนูˆุฏู‡ ุงู„ู†َّุงุณ ู…ู† ุตู„ุงุฉ ุณุช ุฑูƒุนุงุช ุฃุญูŠุงู†ุงً ุจูŠู† ุงู„ู…ุบุฑุจ ูˆุงู„ุนุดุงุก ، ูู‚ุฏ ูˆุฑุฏุช ุนุฏุฉ ุฃุญุงุฏูŠุซ ุซุงุจุชุฉ ููŠ ุณู†ูŠุฉ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฑูƒุนุงุช ุงู„ุณุช ، ูุฅุฐุง ุชูˆุณู„ ุงู„ุนุจุฏ ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุจู‡ู† ููŠ ุฑุฌุงุก ุฌู„ุจ ุงู„ู…ู†ุงูุน ูˆุฏูุน ุงู„ู…ุถุงุฑ ، ูู‡ูˆ ู…ุชูˆุณู„ ุฅู„ูŠู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุจุนู…ู„ ุตุงู„ุญ ู„ุง ุงุนุชุฑุงุถ ุนู„ูŠู‡ ، ูƒู…ุง ุฃู†ู‡ุง ุชูƒูˆู† ููŠ ุงู„ูˆู‚ุช ู†ูุณู‡ ู†ูˆุนุงً ู…ู† ุตู„ุงุฉ ุงู„ุญุงุฌุฉ ุงู„ู…ุชูู‚ ุนู„ู‰ ุตุญุชู‡ุง ุจูŠู† ุฌู…ูŠุน ุฃู‡ู„ ุงู„ู‚ุจู„ุฉ ، ูˆู‡ูŠ ููŠ ุงู„ุฃุตู„ ุชุณู…ู‰ ุตู„ุงุฉ ุงู„ุฃูˆَّุงุจูŠู†[33] 
Adapun perbuatan yang biasa di lakukan manusia berupa shalat enam rakaat pada beberapa waktu di antara Maghrib dan ‘Isya, maka sungguh terdapat beberapa hadits tentang kesunnahan shalat enam rakaat ini. Maka apabila hamba bertawasul kepada Allah SWT dengan shalat tersebut untuk mengharapkan mendapat manfaat dan dijauhkan mudharat, maka tawasul ini adalah tawasul kepada Allah SWT dengan amalan shalih yang tidak ada pertentangan tentangnya. Sebagaimana halnya shalat tersebut merupakan bagian dari shalat hajat dalam waktu tersendiri yang disepakati keshahihannya oleh sekalian ulama. Pada dasarnya, shalat enam rakaat tersebut  dinamakan shalat Awwabin”.
  • Membaca surat Yasin sebanyak  3x setelah shalat Maghrib dan berdoa setelahnya.
Pada bacaan kali pertama diniatkan supaya Allah SWT memberikan panjang umur beserta diberikan taufik untuk taat. Pada bacaan kali kedua diniatkan supaya dijauhkan dari segala bala dan diberikan rezeki halal yang banyak. Dan pada bacaan kali ketiga diniatkan tidak tergantung hidupnya kepada orang lain dan diberikan husnul-khatimah. Setiap kali selesai membaca surat Yasin dilanjutkan dengan membaca doa nishfu Sya’ban yang masyhur seperti tertera berikut ini[34] :

ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุฑุญูŠู… ูˆุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนَู„ู‰َ ุณَูŠِّุฏِู†َุง ู…ุญู…ุฏٍ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِู‡ِ ูˆَุตَุญْุจِู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ
ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ูŠَุง ุฐَุง ุงู„ْู…َู†ِّ ูˆَู„َุง ูŠُู…َู†ُّ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูŠَุง ุฐَุง ุงْู„ุฌَู„َุงู„ِ ูˆَุงْู„ِุฅูƒْุฑَุงู…ِ ูŠَุง ุฐَุง ุงู„ุทَّูˆْู„ِ ูˆَู„ْุฅِู†ْุนَุงู…ِ ู„َุง ุฅِู„ู‡ِ ุฅِู„ุงَّ ุฃَู†ْุชَ ุธَู‡َุฑَ ุงู„ู„ุงَّุฌِูŠْู†َ، ูˆَุฌَุงุฑَ ุงู„ْู…ُุณْุชَุฌِูŠْุฑِูŠْู†َ، ูˆَุฃَู…َุงู†َ ุงู„ْุฎَุงุฆِูِูŠْู†َ. ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฅِู†ْ ูƒُู†ْุชَ ูƒَุชَุจْุชَู†ِูŠْ ุนِู†ْุฏَูƒَ ูِูŠ ุฃُู…ِّ ุงู„ْูƒِุชَุงุจِ ุดَู‚ِูŠًّุง ุฃَูˆْ ู…َุญุฑُูˆْู…ًุง ุฃَูˆْ ู…َุทْุฑُูˆْุฏًุง ุฃَูˆْ ู…ُู‚ْุชَุฑًّุง ุนَู„َูŠَّ ูِูŠ ุงู„ุฑِّุฒْู‚ِ ูَุงู…ْุญُ ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุจِูَุถْู„ِูƒَ ุดَู‚َุงูˆَุชِูŠ ูˆَุญِุฑْู…َุงู†ِูŠْ ูˆَุทَุฑْุฏِูŠْ ูˆَุฅِู‚ْุชَุงุฑَ ุฑِุฒْู‚ِู€ูŠْ، ูˆَุฃَุซْุจِุชْู†ِูŠْ ุนِู†ْุฏَูƒَ ูِูŠ ุฃُู…ِّ ุงู„ْูƒِุชَุงุจِ ุณَุนِูŠْุฏًุง ู…َุฑْุฒُูˆْู‚ًุง ู…ُูˆَูَّู‚ًุง ู„ِู„ْุฎَูŠْุฑَุงุชِ، ูَุฅِู†َّูƒَ ู‚ُู„ْุชَ ูˆَู‚َูˆْู„ُูƒَ ุงู„ْุญู‚ُّ ูِูŠ ูƒِุชَุงุจِูƒَ ุงู„ْู…ُู†َุฒَّู„ِ، ุนَู„َู‰ ู„ِุณَุงู†ِ ู†َุจِูŠِّูƒَ ุงู„ْู…ُุฑْุณَู„ِ، ูŠَู…ْุญُูˆْ ุงู„ู„ู‡ُ ู…َุง ูŠَุดَุงุกُ ูˆَูŠُุซْุจِุชُ ูˆَุนِู†ْุฏَู‡ُ ุฃُู…ُّ ุงู„ْูƒِุชَุงุจِ، ุฅِู„ِู‡ูŠْ ุจِุงู„ุชَّุฌَู„ِّูŠ ุงْู„ุฃَุนْุธَู…ِ ูِูŠ ู„َูŠْู„َุฉِ ุงู„ู†ِّุตْูِ ู…ِู†ْ ุดَุนْุจَุงู†َ ุงู„ْู…ُูƒَุฑَّู…ِ ุงَู„َّุชِูŠ ูŠُูุฑَู‚ُ ูِูŠْู‡َุง ูƒُู„ُّ ุฃَู…ْุฑٍ ุญَูƒِูŠْู…ٍ ูˆَูŠُุจْุฑَู…ُ. ุฃَุณْุฃَู„ُูƒَ ุฃَู†ْ ุชَูƒْุดِูَ ุนَู†َّุง ู…ِู†َ ุงู„ْุจَู„َุงุกِ ู…َุง ู†َุนْู„ู…ُ ูˆَู…َุง ู„َุง ู†َุนْู„َู…ُ، ูˆَู…َุง ุฃَู†ْุชَ ุจِู‡ِ ุฃَุนْู„َู…ُ، ุฅِู†َูƒَ ุฃَู†ْุชَ ุงู„ุฃَุนَุฒُّ ุงู„ْุฃَูƒْุฑَู…ُ، ูˆَุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุชَุนَุงู„َู‰ ุนَู„َู‰ ุณَูŠِّุฏِู†َุง ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِู‡ِ ูˆَุตَุญْุจِู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ
[35]

            Imam al-Dairabi dalam kitabnya, al-Mujarrabat, menyebutkan bahwa salah satu keistimewaan surat Yasin adalah barangsiapa membaca surat Yasin sebanyak 3x  dengan niat sebagaimana tersebut sebelumnya, kemudian dilanjutkan dengan membaca doa nishfu Sya’ban seperti yang telah tertera tersebut, akan tetapi sebelum membaca doa tersebut, terlebih dahulu membaca doa berikut ini, dimana kumpulan kedua doa ini dibaca sebanyak 10x, maka tercapailah hajatnya[36] :

ุฅِู„َู‡ِูŠْ ุฌُูˆْุฏُูƒَ ุฏَู„َّู†ِูŠْ ุนَู„َูŠْูƒَ، ูˆَุฅِุญْุณَุงู†ُูƒَ ู‚َุฑَّุจَู†ِูŠْ ุฅِู„َูŠْูƒَ، ุฃَุดْูƒُูˆْ ุฅِู„َูŠْูƒَ ู…َุง ู„َุง ูŠَุฎْูَู‰ ุนَู„َูŠْูƒَ، ูˆَุฃَุณْุฃَู„ُูƒَ ู…َุง ู„َุง ูŠَุนْุณُุฑُ ุนَู„َูŠْูƒَ، ุฅِุฐْ ุนِู„ْู…ُูƒَ ุจِุญَุงู„ِูŠْ ูŠَูƒْูِูŠْ ุนَู†ْ ุณُุคَุงู„ِูŠْ، ูŠَุง ู…ُูَุฑِّุฌَ ูƒَุฑْุจِ ุงู„ْู…َูƒْุฑُูˆْุจِูŠْู†َ ูَุฑِّุฌْ ุนَู†ِّูŠْ ู…َุง ุฃَู†َุง ูِูŠْู‡ِ، ู„َุง ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„ุงَّ ุฃَู†ْุชَ ุณُุจْุญَุงู†َูƒَ ุฅِู†ِّูŠْ ูƒُู†ْุชُ ู…ِู†ْ ุงู„ุธَّุงู„ِูŠْู…ِู†ِ، ูَุงุณْุชَุฌَุจْู†َุง ู„َู‡ُ ูˆَู†َุฌَّูŠْู†ุงَู‡ُ ู…ِู†َ ุงู„ْุบَู…ِّ ูˆَูƒَุฐَู„ِูƒَ ู†ُู†ْุฌِูŠ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ِูŠْู†َ[37]

Imam Sayyid Hasan bin Quthb ‘Abdullah bin Ba’alawi al-Haddad menambahkan doa berikut ini setelah pembacaan surat Yasin dengan niat seperti tersebut dan setelah doa nishfu Sya’ban yang masyhur yang telah disebutkan sebelumnya[38] :

ุงَู„ู„ّู‡ُู…َّ ุงุฌْุนَู„ْู†ِูŠ ู…ِู†ْ ุฃَุนْุธَู…ِ ุนِุจَุงุฏِูƒَ ุญَุธًّุง ูˆَู†َุตِูŠْุจًุง ูِูŠ ูƒُู„ِّ ุดَูŠْุกٍ ู‚َุณَู…ْุชَู‡ُ ูِูŠ ู‡ุฐِู‡ِ ุงู„ู„َّูŠْู„َุฉِ ู…ِู†ْ ู†ُูˆْุฑٍ ุชَู‡ْุฏِูŠ ุจِู‡ِ، ุฃَูˆْ ุฑَุญْู…َุฉٍ ุชَู†ْุดُุฑُู‡َุง، ุฃَูˆْ ุฑِุฒْู‚ٍ ุชَุจْุณُุทُู‡ُ، ุฃَูˆْ ูَุถْู„ٍ ุชَู‚ْุณِู…ُู‡ُ ุนَู„َู‰ ุนِุจَุงุฏِูƒَ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ِูŠْู†َ، ูŠَุง ุงู„ู„ู‡ُ، ูŠَุง ุงู„ู„ู‡ُ، ู„َุง ุฅِู„ู‡َ ุฅِู„َّุง ุฃَู†ْุชَ. ุงَู„ู„ّู‡ُู…َّ ู‡َุจْ ู„ِูŠ ู‚َู„ْุจًุง ุชَู‚ِูŠًّุง ู†َู‚ِู€ู€ูŠًّุง، ู…ِู†َ ุงู„ุดِّุฑْูƒِ ุจَุฑِูŠًّุง، ู„َุง ูƒَุงูِุฑًุง ูˆَู„َุง ุดَู‚ِูŠًّุง، ูˆَู‚َู„ْุจًุง ุณَู„ِูŠْู…ًุง ุฎَุงุดِุนًุง ุถَุงุฑِุนًุง. ุงَู„ู„ّู‡ُู…َّ ุงู…ْู„َุฃْ ู‚َู„ْุจِูŠ ุจِู†ُูˆْุฑِูƒَ ูˆَุฃَู†ْูˆَุงุฑِ ู…ُุดَุงู‡َุฏَุชِูƒَ، ูˆَุฌَู…َุงู„ِูƒَ ูˆَูƒَู…َุงู„ِูƒَ ูˆَู…َุญَุจَّุชِูƒَ، ูˆَุนِุตْู…َุชِูƒَ ูˆَู‚ُุฏْุฑَุชِูƒَ ูˆَุนِู„ْู…ِูƒَ ูŠَุง ุฃَุฑْุญَู…َ ุงู„ุฑَّุงุญِู…ِูŠْู†َ، ูˆَุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุชَุนَุงู„َู‰ ุนَู„َู‰ ุณَูŠِّุฏِู†َุง ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِู‡ِ ูˆَุตَุญْุจِู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ[39]

Lebih panjangnya, doa tersebut dilanjutkan seperti berikut ini : [40]

ุงَู„ู„ّู‡ُู…َّ ุงุฌْุนَู„ْู†ِูŠ ู…ِู†ْ ุฃَุนْุธَู…ِ ุนِุจَุงุฏِูƒَ ุญَุธًّุง ูˆَู†َุตِูŠْุจًุง ูِูŠ ูƒُู„ِّ ุดَูŠْุกٍ ู‚َุณَู…ْุชَู‡ُ ูِูŠ ู‡ุฐِู‡ِ ุงู„ู„َّูŠْู„َุฉِ ู…ِู†ْ ู†ُูˆْุฑٍ ุชَู‡ْุฏِูŠ ุจِู‡ِ، ุฃَูˆْ ุฑَุญْู…َุฉٍ ุชَู†ْุดُุฑُู‡َุง، ุฃَูˆْ ุฑِุฒْู‚ٍ ุชَุจْุณُุทُู‡ُ، ุฃَูˆْ ูَุถْู„ٍ ุชَู‚ْุณِู…ُู‡ُ ุนَู„َู‰ ุนِุจَุงุฏِูƒَ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ِูŠْู†َ، ูŠَุง ุงู„ู„ู‡ُ، ูŠَุง ุงู„ู„ู‡ُ، ู„َุง ุฅِู„ู‡َ ุฅِู„َّุง ุฃَู†ْุชَ. ุงَู„ู„ّู‡ُู…َّ ู‡َุจْ ู„ِูŠ ู‚َู„ْุจًุง ุชَู‚ِูŠًّุง ู†َู‚ِู€ู€ูŠًّุง، ู…ِู†َ ุงู„ุดِّุฑْูƒِ ุจَุฑِูŠًّุง، ู„َุง ูƒَุงูِุฑًุง ูˆَู„َุง ุดَู‚ِูŠًّุง، ูˆَู‚َู„ْุจًุง ุณَู„ِูŠْู…ًุง ุฎَุงุดِุนًุง ุถَุงุฑِุนًุง. ุงَู„ู„ّู‡ُู…َّ ุงู…ْู„َุฃْ ู‚َู„ْุจِูŠ ุจِู†ُูˆْุฑِูƒَ ูˆَุฃَู†ْูˆَุงุฑِ ู…ُุดَุงู‡َุฏَุชِูƒَ، ูˆَุฌَู…َุงู„ِูƒَ ูˆَูƒَู…َุงู„ِูƒَ ูˆَู…َุญَุจَّุชِูƒَ، ูˆَุนِุตْู…َุชِูƒَ ูˆَู‚ُุฏْุฑَุชِูƒَ ูˆَุนِู„ْู…ِูƒَ ูŠَุง ุฃَุฑْุญَู…َ ุงู„ุฑَّุงุญِู…ِูŠْู†َ، ูˆَุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุชَุนَุงู„َู‰ ุนَู„َู‰ ุณَูŠِّุฏِู†َุง ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِู‡ِ ูˆَุตَุญْุจِู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ[1]

Lebih panjangnya, doa tersebut dilanjutkan seperti berikut ini : [2]

ุฅِู„َู‡ِูŠ ุชَุนَุฑَّุถَ ุฅِู„َูŠْูƒَ ูِูŠ ู‡ุฐِู‡ِ ุงู„ู„َّูŠْู„َุฉِ ุงู„ْู…ُุชَุนَุฑِّุถُูˆْู†َ، ูˆَู‚َุตَุฏَูƒَ ูˆَุฃَู…َู„َ ู…َุนْุฑُูˆْูَูƒَ ูˆَูَุถْู„َูƒَ ุงู„ุทَّุงู„ِุจُูˆْู†َ، ูˆَุฑَุบَุจَ ุฅِู„َู‰ ุฌُูˆْุฏِูƒَ ูˆَูƒَุฑَู…ِูƒَ ุงู„ุฑَّุงุบِุจُูˆْู†،َ ูˆَู„َูƒَ ูِูŠ ู‡ุฐِู‡ِ ุงู„ู„َّูŠْู„َุฉِ ู†ُูَุญَุงุชٌ، ูˆุนَุทَุงูŠَุง ูˆَุฌَูˆَุงุฆِุฒُ ูˆَู…َูˆَุงู‡ِุจُ
ุฅِู„َู‡ِูŠ ุชَุนَุฑَّุถَ ุฅِู„َูŠْูƒَ ูِูŠ ู‡ุฐِู‡ِ ุงู„ู„َّูŠْู„َุฉِ ุงู„ْู…ُุชَุนَุฑِّุถُูˆْู†َ، ูˆَู‚َุตَุฏَูƒَ ูˆَุฃَู…َู„َ ู…َุนْุฑُูˆْูَูƒَ ูˆَูَุถْู„َูƒَ ุงู„ุทَّุงู„ِุจُูˆْู†َ، ูˆَุฑَุบَุจَ ุฅِู„َู‰ ุฌُูˆْุฏِูƒَ ูˆَูƒَุฑَู…ِูƒَ ุงู„ุฑَّุงุบِุจُูˆْู†،َ ูˆَู„َูƒَ ูِูŠ ู‡ุฐِู‡ِ ุงู„ู„َّูŠْู„َุฉِ ู†ُูَุญَุงุชٌ، ูˆุนَุทَุงูŠَุง ูˆَุฌَูˆَุงุฆِุฒُ ูˆَู…َูˆَุงู‡ِุจُ ูˆَู‡َุจَّุงุชٌ، ุชَู…ُู†ُّ ุจِู‡َุง ุนَู„َู‰ ู…َู†ْ ุชَุดَุงุกُ ู…ِู†ْ ุนِุจَุงุฏِูƒَ ูˆَุชَุฎُุตُّ ุจِู‡َุง ู…َู†ْ ุฃَุญْุจَุจْุชَู‡ُ ู…ِู†ْ ุฎَู„ْู‚ِูƒَ، ูˆَุชَู…ْู€ู€ู†َุนُ ูˆَุชَุญْุฑُู…ُ ู…َู†ْ ู„َู…ْ ุชَุณْุจِู‚ ู„َู‡ُ ุงู„ْุนِู†َุงูŠَุฉُ ู…ِู†ْูƒَ، ูَุฃَุณْุฃَู„ُูƒَ ูŠَุง ุงู„ู„ู‡ُ ุจِุฃَุญَุจِّ ุงู„ุฃَุณْู…َุงุกِ ุฅِู„َูŠْูƒَ، ูˆَุฃَูƒْุฑَู…ِ ุงู„ุฃَู†ْุจِูŠَุงุกِ ุนَู„َูŠْูƒَ، ุฃَู†ْ ุชَุฌْุนَู„َู†ِูŠ ู…ِู…َّู†ْ ุณَุจَู‚َุชْ ู„َู‡ُ ู…ِู†ْูƒَ ุงู„ุนِู†َุงูŠَุฉُ، ูˆَุงุฌْุนَู„ْู†ِูŠ ู…ِู†ْ ุฃَูˆْูَุฑِ ุนِุจَุงุฏِูƒَ ูˆَุงุฌْุฒُู„ْ ุฎَู„ْู‚َูƒَ ุญَุธًّุง ูˆَู†َุตِูŠْุจًุง ูˆَู‚َุณَู…ًุง ูˆَู‡ِุจَุฉً ูˆَุนَุทِูŠَّุฉً ูِูŠ ูƒُู„ِّ ุฎَูŠْุฑٍ ุชَู‚ْุณِู…ُู‡ُ ูِูŠ ู‡ุฐِู‡ِ ุงู„ู„َّูŠْู„َุฉِ ุฃَูˆْ ูِูŠْู…َุง ุจَุนْุฏَู‡َุง ู…ِู†ْ ู†ُูˆْุฑٍ ุชَู‡ْุฏِูŠ ุฃَูˆْ ุฑَุญْู…َุฉٍ ุชَู†ْุดُุฑُู‡َุง، ุฃَูˆْ ุฑِุฒْู‚ٍ ุชَุจْุณُุทُู‡ُ ุฃَูˆْ ุถَุฑٍّ ุชَูƒْุดِูُู‡ُ ุฃَูˆْ ุฐَู†ْุจٍ ุชَุบْูِุฑُู‡ُ ุฃَูˆْ ุดِุฏَّุฉٍ ุชَุฏْูَุนُู‡َุง ุฃَูˆْ ูِุชْู†َุฉٍ ุชَุตْุฑِูُู‡َุง ุฃَูˆْ ุจَู„َุงุกٍ ุชَุฑْูَุนُู‡ُ، ุฃَูˆْ ู…ُุนَุงูَุงุฉٍ ุชَู…ُู†ُّ ุจِู‡َุง ุฃَูˆْ ุนَุฏُูˆٍّ ุชَูƒْูِูŠْู‡ِ ูَุงูƒْูِู†ِูŠ ูƒُู„َّ ุดَุฑٍّ ูˆَูˆَูِّู‚ْู†ِูŠ ุงَู„ู„ّู‡ُู…َّ ู„ِู…َูƒَุงุฑِู…ِ ุงู„ุฃَุฎْู„َุงู‚ِ ูˆَุงุฑْุฒُู‚ْู†ِูŠ ุงู„ุนَุงูِูŠَุฉَ ูˆَุงู„ุจَุฑَูƒَุฉَ ูˆَุงู„ุณَّุนَุฉَ ูِูŠ ุงู„ุฃَุฑْุฒَุงู‚ِ ูˆَุณَู„ِّู…ْู†ِูŠ ู…ِู†َ ุงู„ุฑِّุฌْุฒِ ูˆَุงู„ุดِّุฑْูƒِ ูˆَุงู„ู†ِّูَุงู‚ِ

ุงَู„ู„ّู‡ُู…َّ ุฅِู†َّ ู„َูƒَ ู†َุณَู…َุงุชِ ู„َุทَูٍ ุฅِุฐَุง ู‡َุจَّุชْ ุนَู„َู‰ ู…َุฑِูŠْุถِ ุบَูْู„َุฉٍ ุดَูَุชْู‡ُ، ูˆَุฅِู†َّ ู„َูƒَ ู†ُูَุญَุงุชِ ุนَุทَูٍ ุฅِุฐَุง ุชَูˆَุฌَّู‡َุชْ ุฅِู„َู‰ ุฃَุณِูŠْุฑِ ู‡َูˆًู‰ ุฃَุทْู„َู‚َุชْู‡ُ، ูˆَุฅِู†َّ ู„َูƒَ ุนِู†َุงูŠَุงุชِ ุฅِุฐَุง ู„َุงุญَุธَุชْ ุบَุฑِูŠْู‚ًุง ูِูŠ ุจَุญْุฑِ ุถَู„َุงู„َุฉٍ ุฃَู†ْู‚َุฐَุชْู‡ُ، ูˆَุฅِู†َّ ู„َูƒَ ุณَุนَุงุฏَุงุชِ ุฅِุฐَุง ุฃَุฎَุฐَุชْ ุจِูŠَุฏِ ุดَู‚ِูŠٍّ ุฃَุณْุนَุฏَุชْู‡ُ، ูˆَุฅِู†َّ ู„َูƒَ ู„َุทَุงุฆِูَ ูƒَุฑَู…ٍ ุฅِุฐَุง ุถَุงู‚َุชِ ุงู„ุญِูŠْู„َุฉُ ู„ِู…ُุฐْู†ِุจٍ ูˆَุณَุนَุชْู‡ُ، ูˆَุฅِู†َّ ู„َูƒَ ูَุถَุงุฆِู„َ ูˆَู†ِุนَู…ًุง ุฅِุฐَุง ุชَุญَูˆَّู„َุชْ ุฅِู„َู‰ ูَุงุณِุฏٍ ุฃَุตْู„َุญَุชْู‡ُ، ูˆَุฅِู†َّ ู„َูƒَ ู†َุธَุฑَุงุชِ ุฑَุญْู…َุฉٍ ุฅِุฐَุง ู†َุธَุฑَุชْ ุจِู‡َุง ุฅِู„َู‰ ุบَุงูِู„ٍ ุฃَูŠْู‚َุธَุชْู‡ُ، ูَู‡َุจْ ู„ِูŠَ ุงู„ู„ّู‡ُู…َّ ู…ِู†ْ ู„ُุทْูِูƒَ ุงู„ْุฎَูِูŠِّ ู†َุณَู…َุฉً ุชَุดْูِูŠ ู…َุฑْุถَ ุบَูْู„َุชِูŠ، ูˆَุงู†ْูَุญْู†ِูŠ ู…ِู†ْ ุนَุทْูِูƒَ ุงู„ูˆَูِูŠ ู†َูْุญَุฉً ุทَูŠِّุจَุฉً ุชُุทْู„ِู‚ُ ุจِู‡َุง ุฃَุณِุฑِูŠ ู…ِู†ْ ูˆَุซَุงู‚ِ ุดَู‡ْูˆَุชِูŠْ، ูˆَุงู„ْุญَุธْู†ِูŠ ูˆَุงุญْูَุธْู†ِูŠ ุจِุนَูŠْู†ِ ุนِู†َุงูŠَุชِูƒَ ู…ُู„َุงุญَุธَุฉً ุชُู†ْู‚ِุฐُู†ِูŠ ุจِู‡َุง ูˆَุชُู†ْุฌِูŠْู†ِูŠ ุจِู‡َุง ู…ِู†ْ ุจَุญْุฑِ ุงู„ุถَّู„ุงَู„َุฉِ, ูˆَุขุชِู†ِูŠ ู…ِู†ْ ู„َุฏُู†ْูƒَ ุฑَุญْู…َุฉً ูِูŠ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ูˆَุงู„ุขุฎِุฑَุฉِ، ุชُุจَุฏِّู„ُู†ِูŠ ุจِู‡َุง ุณَุนَุงุฏَุฉً ู…ِู†ْ ุดَู‚َุงูˆَุฉٍ ูˆَุงุณْู…َุนْ ุฏُุนَุงุฆِูŠ، ูˆَุนَุฌِّู„ْ ุฅِุฌَุงุจَุชِูŠ، ูˆَุงู‚ْุถِ ุญَุงุฌَุชِูŠ ูˆَุนَุงูِู†ِูŠ، ูˆَู‡َุจْ ู„ِูŠ ู…ِู†ْ ูƒَุฑَู…ِูƒَ ูˆَุฌُูˆْุฏِูƒَ ุงู„ْูˆَุงุณِุนِ ู…َุง ุชَุฑْุฒُู‚ُู†ِูŠ ุจِู‡ِ ุงู„ْุฅِู†َุงุจَุฉَ ุฅِู„َูŠْูƒَ ู…َุนَ ุตِุฏْู‚ِ ุงู„ู„ُّุฌَุงุกِ ูˆَู‚َุจُูˆْู„ِ ุงู„ุฏُّุนَุงِุก، ูˆَุฃَู‡ِّู„ْู†ِูŠ ู„ِู‚َุฑْุนِ ุจَุงุจِูƒَ ู„ِู„ุฏُّุนَุงุกِ ูŠَุง ุฌَูˆَّุงุฏُ، ุญَุชَّู‰ ูŠَุชَّุตِู„َ ู‚َู„ْุจِูŠ ุจِู…َุง ุนِู†ْุฏَูƒَ، ูˆَุชُุจَู„ِّุบَู†ِูŠ ุจِู‡َุง ุฅِู„َู‰ ู‚َุตْุฏِูƒَ ูŠَุง ุฎَูŠْุฑَ ู…َู‚ْุตُูˆْุฏٍ، ูˆَุฃَูƒْุฑَู…َ ู…َุนْุจُูˆْุฏٍ ุงِุจْุชِู‡َุงู„ِูŠ ูˆَุชَุถَุฑُّุนِูŠ ูِูŠ ุทَู„َุจِ ู…َุนُูˆْู†َุชِูƒَ ูˆَุฃَุชَّุฎِุฐُูƒَ ูŠَุง ุฅِู„ู‡ِูŠْ ู…َูْุฒَุนًุง ูˆَู…َู„ْุฌَุฃً ุฃَุฑْูَุนُ ุฅِู„َูŠْูƒَ ุญَุงุฌَุชِูŠ ูˆَู…َุทَุงู„ِุจِูŠ ูˆَุดَูƒَูˆَุงูŠَ، ูˆَุฃُุจْุฏِูŠ ุฅِู„َูŠْูƒَ ุถَุฑِّูŠ، ูˆَุฃُูَูˆِّุถُ ุฅِู„َูŠْูƒَ ุฃَู…ْุฑِูŠ ูˆَู…ُู†َุงุฌَุงุชِูŠ، ูˆَุฃَุนْุชَู…ِุฏُ ุนَู„َูŠْูƒَ ูِูŠ ุฌَู…ِูŠْุนِ ุฃُู…ُูˆْุฑِูŠ ูˆَุญَุงู„َุงุชِูŠ

ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฅِู†ِّูŠ ูˆَู‡ุฐِู‡ِ ุงู„ู„َّูŠْู„َุฉَ ุฎَู„ْู‚ٌ ู…ِู†ْ ุฎَู„ْู‚ِูƒَ ูَู„َุง ุชَุจْู„ُู†ِูŠ ูِูŠْู‡َุง ูˆَู„َุง ุจَุนْุฏَู‡َุง ุจِุณُูˆْุกٍ ูˆَู„َุง ู…َูƒْุฑُูˆْู‡ٍ، ูˆَู„َุง ุชُู‚َุฏِّุฑْ ุนَู„َูŠَّ ูِูŠْู‡َุง ู…َุนْุตِูŠَّุฉً ูˆَู„َุง ุฒِู„َّุฉً، ูˆَู„َุง ุชُุซْุจِุชْ ุนَู„َูŠَّ ูِูŠْู‡َุง ุฐَู†ْุจًุง، ูˆَู„َุง ุชَุจْู„ُู†ِูŠ ูِูŠْู‡َุง ุฅِู„َّุง ุจِุงู„َّุชِูŠ ู‡ِูŠَ ุฃَุญْุณَู†ُ، ูˆَู„َุง ุชُุฒَูŠِّู†ْ ู„ِูŠ ุฌَุฑَุงุกَุฉً ุนَู„َู‰ ู…َุญَุงุฑِู…ِูƒَ ูˆَู„َุง ุฑُูƒُูˆْู†ًุง ุฅِู„َู‰ ู…َุนْุตِูŠَุชِูƒَ، ูˆَู„َุง ู…َูŠْู„ุงً ุฅِู„َู‰ ู…ُุฎَุงู„َูَุชِูƒَ، ูˆَู„َุง ุชَุฑْูƒًุง ู„ِุทَุงุนَุชِูƒَ، ูˆَู„َุง ุงุณْุชِุฎْูَุงูًุง ุจِุญَู‚ِّูƒَ، ูˆَู„َุง ุดَูƒًّุง ูِูŠ ุฑِุฒْู‚ِูƒَ، ูَุฃَุณْุฃَู„ُูƒَ ุงَู„ู„ّู‡ُู…َّ ู†َุธْุฑَุฉً ู…ِู†ْ ู†َุธَุฑَุงุชِูƒَ ูˆَุฑَุญْู…َุฉً ู…ِู†ْ ุฑَุญْู…َุงุชِูƒَ، ูˆَุนَุทِูŠَّุฉً ู…ِู†ْ ุนَุทِูŠَّุงุชِูƒَ ุงู„ู„َّุทِูŠْูَุฉِ، ูˆَุงุฑْุฒُู‚ْู†ِูŠ ู…ِู†ْ ูَุถْู„ِูƒَ، ูˆَุงูƒْูِู†ِูŠ ุดَุฑَّ ุฎَู„ْู‚ِูƒَ، ูˆَุงุญْูَุธْ ุนَู„َูŠَّ ุฏِูŠْู†َ ุงู„ْุฅِุณْู„َุงู…ِ، ูˆَุงู†ْุธُุฑْ ุฅِู„َูŠْู†َุง ุจِุนَูŠْู†ِูƒَ ุงู„َّุชِูŠ ู„َุง ุชَู†َุงู…ُ، ูˆَุขุชِู†َุง ูِูŠ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ุญَุณَู†َุฉً ูˆَูِูŠ ุงู„ْุขุฎِุฑَุฉِ ุญَุณَู†َุฉً ูˆَู‚ِู†َุง ุนَุฐَุงุจَ ุงู„ู†َّุงุฑِ 

 (x3 


ุฅِู„ู‡ِูŠْ ุจِุงู„ุชَّุฌَู„ِّูŠ ุงู„ุฃَุนْุธَู…ِ ูِูŠ ู„َูŠْู„َุฉِ ุงู„ู†ِّุตْูِ ู…ِู†ْ ุดَุนْุจَุงู†َ ุงู„ุดَّู‡ْุฑِ ุงู„ุฃَูƒْุฑَู…ِ، ุงู„َّุชِูŠ ูŠُูْุฑَู‚ُ ูِูŠْู‡َุง ูƒُู„ُّ ุฃَู…ْุฑٍ ุญَูƒِูŠْู…ٍ ูˆَูŠُุจْุฑَู…ُ، ุงِูƒْุดِูْ ุนَู†َّุง ู…ِู†َ ุงู„ْุจَู„َุงุกِ ู…َุง ู†َุนْู„َู…ُ ูˆَู…َุง ู„َุง ู†َุนْู„َู…ُ، ูˆَุงุบْูِุฑْ ู„َู†َุง ู…َุง ุฃَู†ْุชَ ุจِู‡ِ ุฃَุนْู„َู…ُ
(x3

ุงَู„ู„ّู‡ُู…َّ ุฅِู†ِّูŠ ุฃَุณْุฃَู„ُูƒَ ู…ِู†ْ ุฎَูŠْุฑِ ู…َุง ุชَุนْู„َู…ُ، ูˆَุฃَุนُูˆْุฐُ ุจِูƒَ ู…ِู†ْ ุดَุฑِّ ู…َุง ุชَุนْู„َู…ُ، ูˆَุฃَุณْุชَุบْูِุฑُ ู…ِู†ْ ูƒُู„ِّ ู…َุง ุชَุนْู„َู…ُ، ุฅِู†َّูƒَ ุฃَู†ْุชَ ุนَู„َّุงู…ُ ุงู„ْุบُูŠُูˆْุจِ. ุงَู„ู„ّู‡ُู…َّ ุฅِู†ِّูŠ ุฃَุณْุฃَู„ُูƒَ ู…ِู†ْ ุฎَูŠْุฑِ ู…َุงَ ุชَุนْู„َู…ُ ูˆَู…َุง ู„َุง ุฃَุนْู„َู…ُ، ูˆَุฃَุณْุชَุบْูِุฑُูƒَ ู„ِู…َุง ุฃَุนْู„َู…ُ ูˆَู…َุง ู„َุง ุฃَุนْู„َู…ُ. ุงَู„ู„ّู‡ُู…َّ ุฅِู†َّ ุงู„ْุนِู„ْู…َ ุนِู†ْุฏَูƒَ ูˆَู‡ُูˆَ ุนَู†َّุง ู…َุญْุฌُูˆْุจٌ، ูˆَู„َุง ู†َุนْู„َู…ُ ุฃَู…ْุฑًุง ู†َุฎْุชَุงุฑُู‡ُ ู„ِุฃَู†ْูُุณِู†َุง، ูˆَู‚َุฏْ ูَูˆَّุถْู†َุง ุฅِู„َูŠْูƒَ ุฃُู…ُูˆْุฑَู†َุง، ูˆَุฑَูَุนْู†َุง ุฅِู„َูŠْูƒَ ุญَุงุฌุงَุชِู†َุง ูˆَุฑَุฌَูˆْู†َุงูƒَ ู„ِูَุงู‚َุงุชِู†َุง ูˆَูَู‚ْุฑِู†َุง، ูَุงَุฑْุดِุฏْู†َุง ูŠَุง ุงู„ู„ู‡ُ، ูˆَุซَุจِّุชْู†َุง ูˆَูˆَูِّู‚ْู†َุง ุฅِู„َู‰ ุฃَุญَุจِّ ุงู„ْุฃُู…ُูˆْุฑِ ุฅِู„َูŠْูƒَ ูˆَุฃَุญْู…َุฏِู‡َุง ู„َุฏَูŠْูƒَ، ูَุฅِู†َّูƒَ ุชَุญْูƒُู…ُ ุจِู…َุง ุชَุดَุงุกُ ูˆَุชَูْุนَู„ُ ู…َุง ุชُุฑِูŠْุฏُ، ูˆَุฃَู†ْุชَ ุนَู„َู‰ ูƒُู„ِّ ุดَูŠْุกٍ ู‚َุฏِูŠْุฑٌ، ูˆَู„َุง ุญَูˆْู„َ ูˆَู„َุง ู‚ُูˆَّุฉَ ุฅِู„َّุง ุจِุงู„ู„ู‡ِ ุงู„ْุนَู„ِูŠِّ ุงู„ْุนَุธَูŠْู…ِ
ุณُุจْุญَุงู†َ ุฑَุจِّูƒَ ุฑَุจِّ ุงู„ْุนِุฒَّุฉِ ุนَู…َّุง ูŠَุตِูُูˆْู†َ، ูˆَุณَู„َุงู…ٌ ุนَู„َู‰ ุงู„ْู…ُุฑْุณَู„ِูŠْู†َ ูˆَุงู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ِู„ّู‡ِ ุฑَุจِّ ุงู„ْุนَุงู„َู…ِูŠْู†َ  ูˆَุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุชَุนَุงู„َู‰ ุนَู„َู‰ ุณَูŠِّุฏِู†َุง ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِู‡ِ ูˆَุตَุญْุจِู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ 

  • Berdoa.
Imam al-Wana’i menyebutkan bahwa salah satu doa yang baik untuk dibaca pada malam nishfu Sya’ban adalah doa yang disunatkan dibaca pada malam lailatul-qadar, karena malam nishfu Sya’ban merupakan malam yang utama setelah lailatul-qadar.[42] Doa tersebut adalah:

ุงَู„ู„ّู‡ُู…َّ ุฅِู†َّูƒَ ุนَูُูˆٌّ ูƒَุฑِูŠْู…ٌ ุชُุญِุจُّ ุงู„ْุนَูْูˆَ ูَุงุนْูُ ุนَู†ِّูŠ، ุงَู„ู„ّู‡ُู…َّ ุฅِู†ِّูŠ ุฃَุณْุฃَู„ُูƒَ ุงู„ุนَูْูˆَ ูˆَุงู„ْุนَุงูِูŠَุฉَ ูˆَุงู„ْู…ُุนَุงูَุงุฉَ ุงู„ุฏَّุงุฆِู…َุฉَ ูِูŠ ุงู„ุฏِّูŠْู†ِ ูˆَุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ูˆَุงู„ุขุฎِุฑَุฉِ[43]

Doa lain yang juga bagus untuk dibaca pada malam nishfu Sya’ban adalah doa Nabi Adam ketika beliau thawaf di Ka’bah setelah diturunkan ke bumi[44]:

ุงَู„ู„ّู‡ُู…َّ ุฅِู†َّูƒَ ุชَุนْู„َู…ُ ุณِุฑِّูŠ ูˆَุนَู„ุงَู†ِูŠَุชِูŠ ูَุงู‚ْุจَู„ْ ู…َุนْุฐِุฑَุชِูŠ، ูˆَุชَุนْู„َู…ُ ุญَุงุฌَุชِูŠ ูَุงุนْุทِู†ِูŠ ุณُุคْู„ِูŠ ูˆَุชَุนْู„َู…ُ ู…َุง ูِูŠ ู†َูْุณِูŠ ูَุงุบْูِุฑْ ู„ِูŠ ุฐَู†ْุจِูŠ. ุงَู„ู„ّู‡ُู…َّ ุฅِู†ِّูŠ ุฃَุณْุฃَู„ُูƒَ ุฅِูŠْู…َุงู†ًุง ูŠُุจَุงุดِุฑُ ู‚َู„ْุจِูŠ، ูˆَูŠَู‚ِูŠْู†ًุง ุตَุงุฏِู‚ًุง ุญَุชَّู‰ ุฃَุนْู„َู…َ ุฃَู†َّู‡ُ ู„َุง ูŠَุตِูŠْุจُู†ِูŠ ุฅِู„َّุง ู…َุง ูƒَุชَุจْุชَ ู„ِูŠ، ูˆَุฑَุถِّู†ِูŠ ุจِู‚َุถَุงุฆِูƒَ[45]

Setelah Nabi Adam membaca doa ini, Allah SWT mengampunkan kesalahan Nabi Adam dan Allah SWT berfirman bahwa siapa saja keturunan Nabi Adam yang membaca doa ini, maka ia akan diampunkan dosanya dan dihilangkan kesusahannya. [46]

Dalam kitab Safinat al-’Ulum, terdapat doa nishfu Sya’ban yang dibaca oleh  Imam ‘Abdul Qadir al-Jailani[47], yaitu:

ุงَู„ู„ّู‡ُู…َّ ุฅِุฐْ ุฃَุทْู„َุนْุชَ ู„َูŠْู„َุฉَ ุงู„ู†ِّุตْูِ ู…ِู†ْ ุดِุนْุจَุงู†َ ุนَู„َู‰ ุฎَู„ْู‚ِูƒَ، ูَุนِุฏَّ ุนَู„َูŠْู†َุง ุจِู…َู†ِّูƒَ ูˆَุนِุชْู‚ِูƒَ، ูˆَู‚َุฏِّุฑْ ู„َู†َุง ู…ِู†ْ ูَุถْู„ِูƒَ ูˆَุงุณِุนَ ุฑِุฒْู‚ِูƒَ، ูˆَุงุฌْุนَู„ْู†َุง ู…ِู…َّู†ْ ูŠَู‚ُูˆْู…ُ ู„َูƒَ ูِูŠْู‡َุง ุจِุจَุนْุถِ ุญَู‚ِّูƒَ. ุงَู„ู„ّู‡ُู…َّ ู…َู†ْ ู‚َุถَูŠْุชَ ูِูŠْู‡َุง ุจِูˆَูَุงุชِู‡ِ ูَุงู‚ْุถِ ู…َุนَ ุฐู„ِูƒَ ู„َู‡ُ ุฑَุญْู…َุชَูƒَ، ูˆَู…َู†ْ ู‚َุฏَّุฑْุชَ ุทَูˆْู„َ ุญَูŠَุงุชِู‡ِ ูَุงุฌْุนَู„ْ ู„َู‡ُ ู…َุนَ ุฐู„ِูƒَ ู†ِุนْู…َุชَูƒَ، ูˆَุจَู„ِّุบْู†َุง ู…َุง ู„َุง ุชَุจْู„ُุบُ ุงู„ุขู…َุงู„ُ ุฅِู„َูŠْู‡ِ، ูŠَุง ุฎَูŠْุฑَ ู…َู†ْ ูˆَู‚َูَุชِ ุงู„ْุฃَู‚ْุฏَุงู…ُ ุจَูŠْู†َ ูŠَุฏَูŠْู‡ِ ูŠَุง ุฑَุจَّ ุงู„ุนَุงู„َู…ِูŠْู†َ، ุจِุฑَุญْู…َุชِูƒَ ูŠَุง ุฃَุฑْุญَู…َ ุงู„ุฑَّุงุญِู…ِูŠْู†َ، ูˆَุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุชَุนَุงู„َู‰ ุนَู„َู‰ ุณَูŠْุฏِู†َุง ู…ُุญَู…َّุฏٍ ุฎَูŠْุฑِ ุฎَู„ْู‚ِู‡ِ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِู‡ِ ูˆَุตَุญْุจِู‡ِ ุฃَุฌْู…َุนِูŠْู†َ[48]

  • Membaca kalimat tahlil, yaitu :
ู„َุง ุฅِู„ู‡َ ุฅَู„َّุง ุฃَู†ْุชَ ุณُุจْุญَุงู†َูƒَ ุฅِู†ِّูŠ ูƒُู†ْุชُ ู…ِู†َ ุงู„ุธَّุงู„ِู…ِูŠْู†َ[49]

Sebagian ulama menyebutkan, barangsiapa membaca zikir tersebut sebanyak kandungan hurufnya yaitu 2375, niscaya ia akan aman dari marabahaya pada tahun tersebut.[50]
  • Membaca surat al-Dukhan.
Imam al-Saraji menyebutkan bahwa barangsiapa membaca awal surat al-Dukhan hingga ayat ke-8 dari awal bulan Sya’ban hingga 15 Sya’ban sebanyak 30x, kemudian ia berzikir dan bershalawat kepada Nabi SAW dan berdoa dengan apa yang ia kehendaki, niscaya doanya akan dikabulkan dengan segera.[51]
  • Memperbanyak shalawat.[52]

PERMASALAHAN SEPUTAR AMALAN LAIN PADA NISHFU SYA’BAN

Amalan lainnya pada malam nishfu Sya’ban adalah shalat sebanyak seratus rakaat, setiap dua rakaat satu kali salam, dan setiap selesai surat al-Fatihah dibaca surat al-Ikhlash 11 kali. Ataupun melakukan shalat sebanyak 11 rakaat.  Setiap selesai membaca al-Fatihah, dibaca surat al-Ikhlash 100x. Shalat seperti ini disebutkan oleh Imam al-Ghazali dalam kitabnya, Ihya-u ‘Ulum al-Din.[53] Pernyataan Imam al-Ghazali ini diikuti juga oleh Imam Ibnu Shalah pada akhir fatwanya walaupun fatwa tersebut ditolak oleh Imam al-Subki.[54]

Sebagian besar ulama lainnya berpendapat bahwa shalat tersebut merupakan bid’ah mungkar dan hadits-haditsnya merupakan hadits maudhu’ sebagaimana diterangkan oleh Imam al-Nawawi[55] dan diikuti pula oleh para ulama lain seperti Imam Ibnu Hajar al-Haitami[56], Imam il-Taqi al-Subki [57], Imam al-Ramli[58]  dan lainnya.

Dalam menyikapi pertentangan antara para ulama besar ini, tidak ada salahnya bila kita bersedia menyimak dan merenungkan perkataan Imam Sulaiman al-Kurdy :

ูˆุงุฎุชู„ู ุงู„ุนู„ู…ุงุก ููŠู‡ุง، ูู…ู†ู‡ู… ู…ู† ู‚ุงู„ ู„ู‡ุง ุทุฑู‚ ุฅุฐุง ุงุฌุชู…ุนุช ูˆุตู„ ุงู„ุญุฏูŠุซ ุฅู„ู‰ ุญุฏ ูŠุนู„ู… ุจู‡ ููŠ ูุถุงุฆู„ ุงู„ุฃุนู…ุงู„. ูˆู…ู†ู‡ู… ู…ู† ุญูƒู… ุนู„ู‰ ุญุฏูŠุซู‡ุง ุจุงู„ูˆุถุน ูˆู…ู†ู‡ู… ุงู„ู†ูˆูˆูŠ ูˆุชุจุนู‡ ุงู„ุดุงุฑุญ ููŠ ูƒุชุจู‡ [59]
Para ulama berbeda pendapat tentang shalat tersebut, sebagian mereka berpendapat bahwa hadits tersebut memiliki thariq yang bila dikumpulkan, mencapai derajat fadhail-a’mal. Sedangkan sebagian yang lain menghukumi hadist tersebut sebagai hadits maudhu’. Diantara yang berpendapat demikian adalah Imam al-Nawawi dan diikuti oleh pensyarihnya dalam kitab-kitabnya”.


Selanjutnya, salah satu hal yang dilarang dalam bulan Sya’ban adalah berpuasa setelah nishfu Sya’ban (16 Sya’ban hingga seterusnya). Rasulullah SAW bersabda:

ุฅุฐุง ุงู†ุชุตู ุดุนุจุงู† ูู„ุง ุชุตูˆู…ูˆุง[60]
“Apabila telah masuk pertengahan nishfu Sya’ban, maka jangan engkau berpuasa. (HR. Imam Abu Daud)

Pengecualian larangan berpuasa ini hanya berlaku apabila puasa tersebut disambung dengan hari sebelumnya (15 Sya’ban), berpuasa karena adanya sebab yang lain seperti qadha puasa ataupun bertepatan dengan kebiasaannya  berpuasa pada hari-hari biasa.

KESIMPULAN
Beranjak dari uraian sebelumnya, dapatlah kita ketahui bahwa menghidupkan malam nishfu Sya’ban dengan serangkaian ibadah yang telah disebutkan sebelumnya -sebagaimana tradisi yang berkembang dalam masyarakat muslim di negeri ini- adalah perilaku dari para ulama terdahulu yang tentu saja tidak bertentangan sama sekali dengan anjuran Syari’at bahkan terdapat keutamaan dan pahala yang besar di dalamnya.

PENUTUP

Keistimewaan dan kemuliaan malam nishfu Sya’ban tidak boleh berlalu begitu saja. Karena itu, marilah kita mempergunakan waktu sebaik-baiknya untuk melakukan ibadah sebanyak dan sebaik mungkin, terlebih lagi malam nishfu Sya’ban hanya datang setahun sekali, dimana boleh jadi kita tidak dapat bertemu dengannya lagi di tahun depan sehingga umur kita tidak terlewati dengan sia-sia.

ู…َู† ุนูˆّุฏ ู†ูุณู‡ ููŠู‡ ุจุงู„ุงุฌุชู‡ุงุฏ ، ูุงุฒ ููŠ ุฑู…ุถุงู† ุจุญุณู† ุงู„ุงุนุชูŠุงุฏุงู„ุณูŠุฏ [ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุงู„ุณูŠุฏ ุนู„ูˆูŠ ุงู„ู…ุงู„ูƒูŠ ุงู„ุญุณู†ูŠ ููŠ ุฑุณุงู„ุชู‡ ุดู‡ุฑ ุดุนุจุงู† ู…ุงุฐุง ููŠู‡  ]
Barangsiapa membiasakan diri beribadah di bulan Sya’ban dengan bersungguh-sungguh, maka ia akan memperoleh kemenangan dalam bulan Ramadhan dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan baik”. (Sayyid Muhammad bin Sayyid ‘Alwi al-Maliki al-Hasani dalam risalahnya, Fi Syahr Sya’ban Madza Fih).

Demikianlah uraian singkat ini. Semoga bermanfaat.

Samalanga, LPI MUDI Mesjid Raya, Aceh

KEPUSTAKAAN
al-Hindi, ‘Alauddin ‘Ali bin Hisam al-Din, Kanz al-‘Umal Fi Sunan al-Aqwal Wa al-Af’al, Juz. 12 cet. V (t.tp: Muassasah al-Risalah, 1981 M).
Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukrim, Lisan al-‘Arab, Juz. I, cet. I (Beirut: Dar Shadir).
al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad, al-Jami’ Li Ahkam al-Qur`an, Q.S al-Baqarah : 142,  Juz. II (t.tp: tp, tt).
al-Naisaburi, Muslim bin al-Hujaj, al-Jami’ al-Shahih al-Musamma Shahih Muslim, Juz. III (Beirut: Dar al-Jail dan Dar al-Afaq al-Jadidat, tt).
al-Baihaqi, Abubakar Ahmad bin al-Husain, Sya’b al-Iman, Juz. III, cet. I (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1410 H).
al-Haitami, Ahmad bin Hajar, Ittihaf Ahl al-Islam Bi Khushushiyat al-Shiyam, cet. I (Beirut: al-Muassasah al-Kutub, 1990 M).
al-Fasyani, Ahmad bin Hijazi, Tuhfat al-Ikhwan Fi Qiraat al-Mi`ad Fi Rajab Wa Sya’ban, cet. II (Mesir: al-Kastaliyah, 1297 H).
Ibnu Rajab, Ahmad bin Rajab, Lathaif al-Ma’arif Fi Ma Li al-Mawasim al-‘Am Min al-Wazhaif, cet. V (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1999 M).
al-Ramli, Ahmad bin Hamzah, Fatawa al-Ramli, Juz. IV (Beirut: Dar Fikr, 1983 M).
al-‘Adawi, Husain Muhammad ‘Ali Makhlul, al-Kalimat al-Hasan Fi Fadha-i al-Lailah Nishf Sya’ban, (t.tp: tp, tt).
al-Tamimi, Muhammad bin Hibban, Shahih Ibn Hibban Bi Tartib Ibn Balban, Juz. XII, cet. II (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1993 M).
Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid, Sunan Ibn Majah, Juz. I (Beirut: Dar al-Fikr, tt).
al-Hanbal, Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, Juz ke-43, cet. II (t.tp: Muassasah al-Risalah. 1999 M).
al-Baihaqi, Abubakar Ahmad bin al-Husain, Fadha-i al-Auqat Li al-Baihaqi, cet. I (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah, 1997 M).
al-Syafi’i, Muhammad bin Idris, al-Umm, Juz. I, cet. I (Beirut: Dar al-Fikr, 2009).
al-Zabidi, Muhammad bin Muhammad, Ittihaf al-Sadat al-Muttaqin Bi Syarh Ihya-i ‘Ulum al-Din, Juz. III, cet. III (Beirut: Dar al-Fikr, 2005).
Ibnu Taimiyah, Ahmad bin ‘Abd al-Halim, Iqtidha-u al-Sirath al-Mustaqim Li Mukhalafat Ashhab al-Jahim, Juz. II (Riyadh: Maktabah al-Rusyd, tt).
al-Shawi, Ahmad al-Shawi al-Maliki, Hasyiah al-Shawy `Ala Tafsir Jalalain, Juz. IV (Beirut: Dar al-Fikr, tt).
al-Luban, Muhammad bin Muhammad, Baqat al-Raihan Fi Ma Yata’allaq Bi Lailat al-Nishf Min Sya’ban, (t.tp: tp, tt).
Muhammad Zaki Ibrahim, Lailat an-Nishf Min Sya’ban Fi Mizan al-Inshaf al-‘Ilmi Wa Samahah al-Islam, (t.tp: tp, tt).
Abdul Hamid bin Muhammad ‘Ali, Kanz al-Najah Wa al-Surur Fi al-Ad’iyyah Allati Tasyruh al-Shudur, (t.tp: t.p, tt).
al-Zarqani, Muhammad al-Zarqani bin ‘Abd al-Baqi, Syarh al-’Alamah al-Zarqani ‘Ala al-Mawahib al-Laduniyyah Bi al-Mihah al-Muhammadiyyah Li al-‘Alamah al-Qusthalani, Juz. IX (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah, 1996 M).
al-Haitami, Ahmad bin Hajar, Fatawa Kubra Fiqhiyyah, Juz. II (Beirut: Dar al-Fikr, 1983 M).
al-Nawawi, Yahya bin Syaraf, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, Juz. V (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah, 2008).
al-Haitami, Ahmad bin Hajar, Tuhfat al-Muhtaj Bi Syarh al-Minhaj, Juz. II (Beirut: Dar al-Fikr, 2009).
al-Ramli, Ahmad bin Hamzah, Nihayat al-Muhtaj Ila Syarh al-Minhaj, juz. II, (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah, 2003).
Sulaiman al-Kurdy, Hawasyi al-Madaniyyah, Juz. I (t.tp: al-Haramain, tt).
Abu Daud, Sulaiman bin al-Asy’ats, Sunan Abi Daud,  Juz. I (Beirut: Dar al-Fikr, tt).
Sayyid Muhammad bin Sayyid ‘Alwi al-Maliki al-Hasani, Fi Syahr Sya’ban Madza Fih, (t.tp: tp, tt) t.hal.


[1]al-Hindi, ‘Alauddin ‘Ali bin Hisam al-Din, Kanz al-‘Umal Fi Sunan al-Aqwal Wa al-Af’al, Juz. 12 cet. V (t.tp: Muassasah al-Risalah, 1981 M) hal. 579.

[2]Ibid, Juz. 8, hal. 591.

[3]Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukrim, Lisan al-‘Arab, Juz. I, cet. I (Beirut: Dar Shadir) hal. 501.

[4]al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad, al-Jami’ Li Ahkam al-Qur`an, Q.S al-Baqarah : 142,  Juz. II (t.tp: tp, tt), hal. 144.

[5]al-Zarqani, Ahmad bin Muhammad, Syarh al-Zarqani ‘Ala al-Mawahib al-Laduniyah Bi al-Minah al-Muhammadiyyah, Juz. IX, cet. I (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1996 M) hal. 165.

[6]al-Naisaburi, Muslim bin al-Hujaj, al-Jami’ al-Shahih al-Musamma Shahih Muslim, Juz. III (Beirut: Dar al-Jail dan Dar al-Afaq al-Jadidat, tt) hal. 160.

[7]al-Baihaqi, Abubakar Ahmad bin al-Husain, Sya’b al-Iman, Juz. III, cet. I (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1410 H) hal. 377.

[8]al-Haitami, Ahmad bin Hajar, Ittihaf Ahl al-Islam Bi Khushushiyat al-Shiyam, cet. I (Beirut: al-Muassasah al-Kutub, 1990 M) hal. 360-361.

[9]al-Fasyani, Ahmad bin Hijazi, Tuhfat al-Ikhwan Fi Qiraat al-Mi`ad Fi Rajab Wa Sya’ban, cet. II (Mesir: al-Kastaliyah, 1297 H) hal. 60.

[10]al-Haitami, Ahmad bin Hajar, Ittihaf Ahl..., hal 367.   

[11]al-Naisaburi, Muslim bin al-Hujaj, al-Jami’ al-Shahih…, Juz. II, hal. 175.

[12]Ibnu Rajab, Ahmad bin Rajab, Lathaif al-Ma’arif Fi Ma Li al-Mawasim al-‘Am Min al-Wazhaif, cet. V (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1999 M) hal. 261.

[13]al-Ramli, Ahmad bin Hamzah, Fatawa al-Ramli, Juz. IV (Beirut: Dar Fikr, 1983 M) hal 383.

[14]al-‘Adawi, Husain Muhammad ‘Ali Makhlul, al-Kalimat al-Hasan Fi Fadha-i al-Lailah Nishf Sya’ban, (t.tp: tp, tt) hal. 6.

[15]al-Tamimi, Muhammad bin Hibban, Shahih Ibn Hibban Bi Tartib Ibn Balban, Juz. XII, cet. II (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1993 M) hal. 481

[16]Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid, Sunan Ibn Majah, Juz. I (Beirut: Dar al-Fikr, tt) hal. 444.

[17]al-Hanbal, Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, Juz ke-43, cet. II (t.tp: Muassasah al-Risalah. 1999 M) hal. 146.

[18]al-Baihaqi, Abubakar Ahmad bin al-Husain, Fadha-i al-Auqat Li al-Baihaqi, cet. I (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah, 1997 M) hal. 32.

[19]al-Haitami, Ahmad bin Hajar, Ittihaf Ahl…, hal 376.

[20]al-Syafi’i, Muhammad bin Idris, al-Umm, Juz. I, cet. I (Beirut: Dar al-Fikr, 2009) hal. 254.

[21]al-Zabidi, Muhammad bin Muhammad, Ittihaf al-Sadat al-Muttaqin Bi Syarh Ihya-I ‘Ulum al-Din, Juz. III, cet. III (Beirut: Dar al-Fikr, 2005) hal. 708.

[22]Ibnu Taimiyah, Ahmad bin ‘Abd al-Halim, Iqtidha-u al-Sirath al-Mustaqim Li Mukhalafat Ashhab al-Jahim, Juz. II (Riyadh: Maktabah al-Rusyd, tt) hal 126.

[23]al-Shawi, Ahmad al-Shawi al-Maliki, Hasyiah al-Shawy `Ala Tafsir Jalalain, Juz. IV (Beirut: Dar al-Fikr, tt) hal. 76 ; al-Fasyani, Ahmad bin Hijazi, Tuhfat al-Ikhwan…, hal 60-62 ; al-Luban, Muhammad bin Muhammad, Baqat al-Raihan Fi Ma Yata’allaq Bi Lailat al-Nishf Min Sya’ban, (t.tp: tp, tt) hal 4-6.

[24]Ibnu Rajab, Ahmad bin Rajab, Lathaif al-Ma’arif…, hal. 258.

[25]Ibid.

[26] Ibid, hal. 259.

[27]al-Ramli, Ahmad bin Hamzah, Fatawa…, Juz. II, hal 89.

[28]al-Fasyani, Ahmad bin Hijazi, Tuhfat al-Ikhwan… hal 65.

[29]Ibnu Rajab, Ahmad bin Rajab, Lathaif al-Ma’arif…, hal. 265.

[30]al-Fasyani, Ahmad bin Hijazi, Tuhfat al-Ikhwan…, hal 66.

[31]al-Zabidi, Muhammad bin Muhammad, Ittihaf al-Sadat…, hal. 708.

[32]Ibid.

[33]Muhammad Zaki Ibrahim, Lailat an-Nishf Min Sya’ban Fi Mizan al-Inshaf al-‘Ilmi Wa Samahah al-Islam, (t.tp: tp, tt) t.hal.

[34]Abdul Hamid bin Muhammad ‘Ali, Kanz al-Najah Wa al-Surur Fi al-Ad’iyyah Allati Tasyruh al-Shudur, (t.tp: t.p, tt) hal. 47-48.

[35]Ibid, hal. 48.

[36]Ibid.

[37] Ibid., hal. 49.

[38]Ibid., hal. 50.

[39]Ibid., hal. 51.

[40]Ibid., hal. 52-54.

[41]Ibid.,

[42]Ibid., hal. 46.

[43]Ibid.

[44]Ibid.

[45]Ibid., hal. 47.

[46]Ibid.

[47]Ibid., hal. 49.

[48]Ibid.

[49]Ibid., hal. 55.

[50]Ibid.

[51]Ibid.

[52]al-Zarqani, Muhammad al-Zarqani bin ‘Abd al-Baqi, Syarh al-’Alamah al-Zarqani ‘Ala al-Mawahib al-Laduniyyah Bi al-Mihah al-Muhammadiyyah Li al-‘Alamah al-Qusthalani, Juz. IX (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah, 1996 M) hal. 165.

[53]al-Zabidi, Muhammad bin Muhammad, Ittihaf al-Sadat…, hal. 704.

[54]al-Haitami, Ahmad bin Hajar, Fatawa Kubra Fiqhiyyah, Juz. II (Beirut: Dar al-Fikr, 1983 M) hal. 80.

[55]al-Nawawi, Yahya bin Syaraf, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, Juz. V (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah, 2008) hal. 65.

[56]al-Haitami, Ahmad bin Hajar, Tuhfat al-Muhtaj Bi Syarh al-Minhaj, Juz. II (Beirut: Dar al-Fikr, 2009) hal. 261.

[57]al-Zabidi, Muhammad bin Muhammad, Ittihaf al-Sadat…, hal 707.

[58]al-Ramli, Ahmad bin Hamzah, Nihayat al-Muhtaj Ila Syarh al-Minhaj, juz. II, (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah, 2003) hal. 124.

[59]Sulaiman al-Kurdy, Hawasyi al-Madaniyyah, Juz. I (t.tp: al-Haramain, tt) hal. 331.

[60]Abu Daud, Sulaiman bin al-Asy’ats, Sunan Abi Daud,  Juz. I (Beirut: Dar al-Fikr, tt) hal. 713.

Sumber :
https://www.facebook.com/notes/abu-mudi/kelebihan-dan-amaliyah-bulan-syaban-dan-nishf-syaban/469703323118512