Jumat, 10 November 2017

Bertaubat setelah bersabar, berhijrah dan berjihad (semoga bermanfaat)

KHUTBAH JUM’AT
Bertaubat setelah bersabar
KHATIB : H.M. SIBAWAEH, S.Pd

إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدًى
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Segala puji bagi Allah SWT Yang Maha Agung lagi Maha Mulia atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua, sehingga pada saat ini kita masih berada dalam kesehatan dan dapat hadir di majlis yang mulia ini untuk menunaikan kewajiban shalat jum’at.
Shalawat dan salam kita haturkan kehadirat Junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, karena dengan jasa besar beliau sehingga kita dapat menikmati ajaran yang benar sampai saat ini. Oleh karenanya mari kita semua bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kepada Allah dengan berupaya melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.
Sidang jum’at Rohimakumullah
Sejumlah ayat dalam Al-Qur’an menyeru kepada kaum Muslimin untuk bertaubat setelah mereka bersabar, berhijrah dan berjihad dijalannya sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah An-Nur Ayat 31.
وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣١
“Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah SWT wahai orang-orang yang beriman. Mudah-mudahan kalian menjadi orang-orang yang beruntung.
(An-Nur [24] : 31).
Sidang jum’at Rohimakumullah
Yang menarik, ayat itu ditutup dengan kata la'allakum tuflihun, mudah-mudahan kalian menjadi orang yang beruntung. Tampak sekali keberuntungan dan kemenangan seseorang sangat tergantung pada taubatnya. Disisi lain, Allah SWT juga memberi restu kepada orang yang bertaubat untuk menjadi pemenang sekaligus orang yang beruntung.
Dari pengertian tersebut terkandung sebuah makna tersembunyi (mafhum mukhalafah) bahwa sebaik apapun perbuatan seseorang, jika ia tidak bertaubat kepada Allah SWT, maka akhirnya akan merugi. Hidupnya jauh dari kemenangan, apabila kejayaan dan kemuliaan. Mereka justru hidup dalam kesengsaraan dan kerugian yang besar. Bahkan mereka termasuk orang-orang yang zalim. Allah SWT berfirman :
وَمَن لَّمۡ يَتُبۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ١١
“Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka adalah orang-orang yang zalim”. (Al-Hujurat [49] : 11).

Dari ayat di atas tergambar bahwa manusia hanya bisa dibagi dalam dua golongan. Pertama, orang-orang yang bertaubat. Kedua, orang-orang yang zalim. Tidak ada pilihan lain. Artinya, kalau dia bukan tergolong orang yang bertaubat, pasti ia termasuk golongan yang zalim. Tidak ada istilah setengah taubat dan setengah zalim.

Sidang jum’at Rohimakumullah
Dalam Al-Qur’an, kata taubat banyak dirangkaikan dengan kata iman dan amal shaleh (perbuatan baik). Hal ini menunjukkan bahwa taubat tidak bisa dilakukan oleh mereka yang hatinya belum terisi oleh iman. Taubat juga menjadi bagian tak terpisahkan dari amal shaleh. Allah SWT berfirman :
وَإِنِّي لَغَفَّارٞ لِّمَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا ثُمَّ ٱهۡتَدَىٰ ٨٢
“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat, beriman, serta mengerjakan amal shaleh, kemudian tetap di jalan yang benar”.
(Thaha [20] : 82).

Sebaliknya, sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Furqan [25] ayat 69-70, mereka yang tidak bertaubat akan disediakan siksaan yang berat dan kehidupan yang menghinakan.
Kedua ayat di atas menegaskan bahwa taubat merupakan syariat yang wajib bagi setiap Muslim. Lebih dari itu, taubat merupakan perbuatan yang paling disukai Allah SWT sebaliknya, Allah SWT sangat membenci orang-orang yang “sok suci”. Dia mengecam orang yang merasa dirinya bersih.
Allah SWT berfirman :
فَلَا تُزَكُّوٓاْ أَنفُسَكُمۡۖ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ ٣٢
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang-orang yang bertakwa” (An-Najm [53] : 32).

Rasulullah SAW adalah manusia suci yang terbebas (ma’shum) dari kesalahan dan dosa. Namun, tiada seharipun beliau lalui tanpa bertaubat kepada Allah        .
Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa beliau melakukan sebanyak 70 kali, bahkan dalam riwayat shahih lainnya disebutkan sebanyak seratus kali.
 “Wahai manusia,” kata Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, “Bertaubatlah kamu kepada Allah SWT dan mohonlah ampun kepada-Nya, karena sesungguhnya aku meminta ampun kepada Allah SWT setiap hari sebanyak seratus kali.
Jika Rasulullah SAW yang ma’sum saja bertaubat sebanyak itu, lalu bagaimana dengan kita? Di sini persoalannya. Bukan sekadar pahala dan dosa, lebih dari itu, Allah SWT sangat mencintai orang yang bertaubat. Bukankah yang kita cari dalam hidup ini adalah cinta Allah SWT? Lalu, jika Allah SWT mencintai orang yang bertaubat, mengapa kita tidak bersegera melakukannya ?
 إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِينَ ٢٢٢
“Sesungguhnya Allah SWT menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (Al-Baqarah [2];222).

Sidang jum’at Rohimakumullah
Perintah taubat memang tidak khusus ditujukan kepada orang yang berbuat dosa, akan tetapi tertuju kepada kaum Muslimin. Dalam hal ini Allah SWT menggunakan kata perintah (Fiil Amr): tuubu (bertaubatlah). Kata ini menunjukkan bahwa bertaubat hukumnya wajib, sebagaiaman kewajiban menjalankan ibadah lainnya.
Tentu saja perbuatan ini untuk kepentingan manusia sendiri. Sebab, tujuan dari perintah taubat ini adalah membimbing manusia agar mencapai kebahagiaan hidup didunia maupun diakhirat.
Allah SWT tidak mendapat untung jika seluruh hambanya bertaubat. Sebalinya, tidak merugi jika seluruh hambanya membangkang dijalannya.
  
Sidang jum’at Rohimakumullah
Para ulama membagi taubat dalam dua kategori berdasarkan Al-Qur’an surat An-Nisa [4] ayat 17 dan 18 pertama, taubat yang diterima. Kedua taubat yang ditolak.
Dalam surat tersebut ditegaskan bahwa taubat yang diterima disisi Allah SWT adalah taubatnya orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan (bi jahalatin).
Dalam tafsir ibnu katsir dijelaskan bahwa perkatan “bi jahalatin” pada ayat itu tidak berarti bahwa semua perbuatan dosa yang dilakukan tanpa pengetahuan secara otomatis tidak diterima taubatnya. Sebab, pada hakekatnya setiap perbuatan dosa itu adalah sebuah kebodohan (jahallah). Karenanya, pintu taubat itu masih tetap terbuka asal dilakukan dengan “segera”.
Lalu, siapakah yang taubatnya tertolak? Para ulama’ bersepakat bahwa pintu taubat tertutup bagi orang-orang kafir. Barang siapa yang mati dalam keadaan kafir, maka dosa-dosanya tidak diampuni. Sebanyak apapun amalnya, tidak akan diperhitungkan oleh Allah SWT sekalipun mereka sangat besar jasanya dalam amal-amal kemanusiaan. Dalam hal ini, seorang anak sekalipun tidak diperbolehkan mendo’akan ayah atau ibu yang mati dalam keadaan kafir.
Kedua, orang yang terlambat bertaubat sehingga ajalnya sudah sampai ditenggorakan. Fir’aun adalah contohnya. Sepanjang hidupnya dia menjadi musuh Allah SWT sehigga ia ditenggelamkan dalam lautan. Sesaat sebelum mati ia sempat bertaubat, tapi Allah SWT tidak menerima taubatnya.

Sidang jum’at Rohimakumullah
Ibnu Attahillah menjelaskan, jika taubatmu diterima, yang ditandai jika engkau merasa lapang ketika melakukan ketaatan serta cenderung pada negeri akherat, maka bergembiralah dan bersyukurlah pada Allah SWT atas yang ditandai engkau masih menikmati maksiat dan masih merasa senang dengannya, maka minta tolonglah kepada Allah SWT         .
Hidup memang tak pernah lepas dari salah dan dosa tapi saat terjerambat, segera bangkitlah dengan taubat nasuha. Akhirnya semoga Allah SWT melapangkan kehidupan dunia dan akhirat kita.





Senin, 06 November 2017

Rasulullah Sayangi Anak Yatim

Dari Ini Contoh Cara Rasulullah Sayangi Anak Yatim
Oleh: Ustaz Erick Yusuf
REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG

Rasulullah SAW terkenal dengan kelemahlembutannya yang demikian tinggi terhadap anak yatim. Diriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa pada suatu hari raya Idul Fitri, Rasulullah SAW melihat seorang anak yatim, lalu beliau mengelus dan merangkulnya, berbuat baik padanya, membawa anak itu ke rumah beliau, lalu berkata kepada anak yatim itu, ''Wahai anak, maukah engkau bila aku menjadi ayahmu dan Aisyah menjadi ibumu?'
Ini Contoh Cara Rasulullah Sayangi Anak Yatim.

Begitu dahsyatnya penyantun dan penyayang anak yatim, kelak di surga akan bersanding bersama Rasulullah bagaikan jari telunjuk dan jari tengah, sesuai dengan hadist Rasulullah SAW, “Aku dan pengasuh anak yatim berada di Surga seperti ini, Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah-nya dan beliau sedikit  merengganggangkan kedua jarinya (HR.Bukhori).

Inginkah hatimu menjadi lembut dan damai? Rasulullah SAW memberi resep untuk itu dalam sebuah hadist dinyatakan ''Bila engkau ingin agar hati menjadi lembut,damai dan tercapai keinginanmu, sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berilah dia makanan seperti yang engkau makan. Bila itu engkau lakukan, hatimu akan tenang serta lembut dan keinginanmu akan tercapai. (HR Thabrani).

MARI SISIPKAN HARTA KITA UNTUK ANAK YATIM BERSAMA KAMI :

Email : ymamambaulabror@gmail.com
FB : Yayasan Mambaul Abror
Nomor Rekening Donasi : 006.22.02408.01-1 A.n Yayasan Mambaul Abror

Kontak Pengurus : 
+62 878-6409-5007(Ustadz Baehaqi)
+6281907876469 (Ustadz Mahsyar)
+628175738972 (Ustadz. Juaini)
+6287765154543 (Ustadz. Khaeril Umam)


 Melihat seorang anak yatim, lalu beliau mengelus dan merangkulnya, berbuat baik padanya, membawa anak itu ke rumah beliau, lalu berkata kepada anak yatim itu, ''Wahai anak, maukah engkau bila aku menjadi ayahmu dan Aisyah menjadi ibumu?'


MARI SISIPKAN HARTA KITA UNTUK ANAK YATIM BERSAMA KAMI :

Email : ymamambaulabror@gmail.com
FB : Yayasan Mambaul Abror
Nomor Rekening Donasi : 006.22.02408.01-1 A.n Yayasan Mambaul Abror

Kontak Pengurus : 
+62 878-6409-5007 (Ustadz Baehaqi)
+6281907876469 (Ustadz Mahsyar)
+628175738972 (Ustadz. Juaini)
+6287765154543 (Ustadz. Khaeril Umam)

Kamis, 02 November 2017

Betapapun Nikmatnya Hidup, Anda Akan Meninggalkannya (untuk dipublikasikan lagi dan Semoga bermanfaat)



Khutbah Pertama:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ .وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ}
أَمَّا بَعْدُ:
فَإِنَّ خَيْرَ الكَلَامِ كَلَامُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ .

Kaum muslimin rahimakumullah,
Pernahkah kita berfikir, berapa orang yang meninggal dunia di kota kita selama satu bulan? Atau selama satu tahun? Atau bahkan setiap hari di seluruh penjuru bumi? Ketetapan Allah terus berjalan. Ada yang lahir ke dunia dan sebagian lagi meninggalkannya. Suatu saat nanti, pasti kita akan mendapatkan giliran. Ini sebuah realita kehidupan yang tidak bisa dipungkiri. Namun sangat disayangkan, banyak orang lupa atau melupakan kematian.
Padahal dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak membicarakan tentang kematian kepada para sahabat, sementara kondisi hati mereka hidup. Ini sangat berbeda dengan realita saat ini. Betapa banyak acara yang dibuat, upaya yang dirancang untuk mengalihkan perhatian dari kematian. Padahal kita sangat membutuhkannya untuk menyadarkan kita dari kelalaian dan melunakkan hati yang sudah mengeras! Kalau kita mau menjawab dengan jujur, siapakah yang lebih butuh terhadap pembicaraan tentang kematian, kita ataukah para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jawabnya, tentu kita.
Oleh karena itu, pembicaraan tentang kematian khotib angkat. Pembicaraan tentang sebuah peristiwa yang amat mengerikan. Peristiwa yang memutuskan seluruh kesenangan dan mengubur seluruh angan-angan. Kematian berarti berpisah dengan orang-orang yang dicintai. Kematian memutus kesempatan beramal, dan mengantarkan ke gerbang hisab.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menasehati kita dengan nasehat yang menyentuh. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ : الْمَوْتَ , فَإِنَّهُ لَمْ يَذْكُرْهُ أَحَدٌ فِيْ ضِيْقٍ مِنَ الْعَيْشِ إِلاَّ وَسَّعَهُ عَلَيْهِ , وَلاَ ذَكَرَهُ فِيْ سَعَةٍ إِلاَّ ضَيَّقَهَا عَلَيْهِ
“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. Karena kematian itu, jika diingat oleh orang yang sedang dalam kesusahan hidup, maka akan bisa meringankan kesusahannya. Dan jika diingat oleh orang yang sedang senang, maka akan bisa membatasi kebahagiaannya itu.” (HR. Thabrani dan al-Hakim).
Ibadallah,
Mengingat kematian itu dapat menghidupkan hati. Orang yang benar-benar malu terhadap Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan melalaikan kematian serta tidak akan meremehkan persiapan menghadapi kematian. Sebagaimana disebutkan dalam hadits.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَحْيُوا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ قَالَ لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَلْتَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaklah kamu benar-benar malu kepada Allah!”. Kami mengatakan, “Wahai Rasulullah, al-hamdulillah kami malu (kepada Allah)”. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukan begitu (sebagaimana yang kamu sangka-pen). Tetapi (yang dimaksud) benar-benar malu kepada Allah adalah engkau menjaga kepala dan isinya, menjaga perut dan apa yang berhubungan dengannya; dan hendaklah engkau mengingat kematian dan kebinasaan. Dan barangsiapa menghendaki akhirat, dia meninggalkan perhiasan dunia. Barangsiapa telah melakukan itu, berarti dia telah benar-benar malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. at-Tirmidzi dan Ahmad).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkan kesempatan berlalu begitu saja. Bila ada kesempatan, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengingatkan para sahabatnya tentang kematian dan berbagai rentetan persistiwa yang akan mengiringinya.
عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جِنَازَةٍ فَجَلَسَ عَلَى شَفِيرِ الْقَبْرِ فَبَكَى حَتَّى بَلَّ الثَّرَى ثُمَّ قَالَ يَا إِخْوَانِي لِمِثْلِ هَذَا فَأَعِدُّوا
Dari al-Bara’ radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada (penguburan-red) suatu jenazah, lalu Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk pada tepi kubur, kemudian beliau menangis sehingga tanah terbasahi, lalu beliau bersabda: “Wahai saudara-saudaraku! Bersiap-siaplah untuk yang seperti ini.” (HR. Ibnu Majah).
Dalam riwayat lain, al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu mengatakan.
بَيْنَمَا نَحْنُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ بَصَرَ بِجَمَاعَةٍ فَقَالَ : عَلَامَ اجْتَمَعَ عَلَيْهِ هَؤُلَاءِ؟ قِيْلَ : عَلَى قَبْرٍ يَحْفِرُوْنَهُ ، قَالَ : فَفَزِعَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَدَرَ بَيْنَ يَدَيْ أَصْحَابِهِ مُسْرِعًا حَتَّى انْتَهَى إِلَى الْقَبْرِ فَجَثَا عَلَيْهِ ، قَالَ : فَاسْتَقْبَلْتُهُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ لِأَنْظُرَ مَا يَصْنَعُ ، فَبَكَى حَتىَّ بَلَّ الثَّرَى مِنْ دُمُوْعِهِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا قَالَ: أَيْ إِخْوَانِي ! لِمِثْلِ الْيَوْمِ فَأَعِدُّوْا
“Ketika kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , tiba-tiba Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat sekelompok orang, maka beliau bertanya, ‘Untuk apa mereka berkumpul?’ Dikatakan kepada beliau, ‘Mereka berkumpul pada kuburan yang sedang mereka gali’. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terperanjat, lalu bergegas mendahului para sahabat sehingga sampai di kuburan, lalu beliau berlutut ke arah kuburan. Bara’ berkata, ‘Maka aku menghadap di depan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melihat apa yang akan beliau lakukan’. Kemudian beliau menangis sehingga tanah menjadi basah karena air mata beliau. Lalu Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap kepada kami dan bersabda, “Wahai saudara-saudaraku! Bersiap-siaplah untuk yang sepertil hari ini!” (Silsilatush Shahihah, no. 1751).
Demikian juga Salafus Shalih, mereka mengingat kematian dan mengingatkan orang lain dengannya. Diriwayatkan bahwa Uwais al-Qarni rahimahullah berkata kepada penduduk Kufah, “Wahai penduduk Kufah, sesungguhnya ketika kamu tidur, kamu berbantalkan kematian. Oleh karena itu, jika kamu telah bangun, jadikanlah kematian itu selalu di hadapanmu.”
Ibadallah,
Mengingat kematian itu memiliki pengaruh besar dalam menyadarkan jiwa dari kelalaian. Kematian merupakan pelajaran terbesar. Seorang ahli zuhud ditanya, “Apakah pelajaran yang paling berpengaruh?” Dia menjawab, “Melihat tempat orang-orang yang mati”. Ahli zuhud yang lain mengatakan, “Orang yang tidak berhenti dari kemaksiatan dengan (nasehat) Alquran dan kematian, seandainya gunung-gunung bertabrakkan di hadapannya, dia juga tidak akan berhenti!”
Sungguh, ziarah kubur, menyaksikan jenazah, melihat orang sekarat, merenungkan sakaratul maut, merenungkan wajah mayit setelah matinya, akan mengekang jiwa dari berbagai kesenangannya serta akan mengusir kegembiraan hati.
Orang yang mempersiapkan diri menghadapi kematian, dia akan beramal dengan sungguh-sungguh dan memperpendek angan-angan.
Al-Lubaidi berkata, “Aku melihat Abu Ishaq rahimahullah di waktu hidupnya, selalu mengeluarkan secarik kertas dan membacanya. Ketika dia telah wafat, aku melihat kertas tersebut, ternyata tertulis padanya ‘Perbaguslah amalanmu, sesungguhnya ajalmu telah dekat!! Perbaguslah amalanmu, sesungguhnya ajalmu telah dekat!!!’.”
Saudara-saudaraku, sesungguhnya orang yang hidup dengan tetap mewaspadai akhir kehidupan, dia akan menjalani kehidupan dengan terus mempersiapkan diri. Sehingga ketika kematian menjelang, dia tidak menyesal atau kalau pun menyesal tapi tidak terlalu.
Oleh karena itu, diriwayatkan bahwa Syaqiq al-Balkhi rahimahullah berkata, “Bersiaplah! Jika kematian mendatangimu, engkau tidak berteriak sekuat tenaga memohon kehidupan. Namun permohonanmu tidak akan dikabulkan”.
Dengan nasehat ini aku ingin membangunkan hati dari tidurnya, menghentikan jiwa dari bergelimang dalam kesesatan dan syahwatnya.
Dengan nasehat ini aku ingin orang yang shalih bertambah keshalihannya dan orang yang lalai segera bangun sebelum menyesal atau sebelum kematiannya.
Kalian telah melihat kehidupan ini berlalu dengan cepat, namun kebanyakan orang tidak menyadarinya. Ada yang lahir sementara yang lain meninggal. Rahim mengeluarkan bayinya, sementara bumi menelan mayit.
Saudara-saudaraku, kehidupan di dunia ini terbatas waktunya. Dia pasti akan berakhir. Para pahlawan dan mujahid, para penakut dan orang yang lari meninggalkan medan jihad, semua akan mati. Orang-orang mulia yang hidup untuk akhirat dan orang-orang tamak yang hidupnya hanya untuk kesenangan dunia, semuanya tak akan luput dari kematian.
Orang-orang yang memiliki cita-cita tinggi atau hidup hanya untuk syahwat kemaluan dan perut, semuanya pasti dicabut nyawanya.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa.” (QS. ar-Rahman/55: 26).
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran/3:185).
Semua makhluk yang bernyawa akan mengalami kematian. Ia merupakan hakekat, namun kita selalu berusaha lari darinya. Kematian merupakan hakekat, yang bisa menjungkalkan.
· Keangkuhan orang-orang yang bersombong
· Penentangan orang-orang yang menyimpang
· Kezhaliman para thagut yang mengangkat dirinya sebagai tuhan yang harus ditaati.
Kematian merupakan hakekat yang akan dialami oleh semua yang bernyawa, bahkan para Nabi dan Rasul. Allah berfirman.
وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ
“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); Maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (QS. al-Anbiya’/21:34).
Kematian merupakan realita yang terdengar sepanjang zaman dan di setiap tempat. Dia terdengar di telinga, masuk ke pemikiran semua orang yang berakal dan mengetuk hati semua orang yang hidup. Dia membisikan bahwa semua orang akan mati, kecuali Dzat yang memiliki kemuliaan dan keperkasaan.
كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ
“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah.” (QS. Al-Qashshash/28:88).
أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ .
Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ، وَأُثْنِي عَلَيْهِ ثَنَاءَ الذَّاكِرِيْنَ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْهِ هُوَ كَمَا أَثْنَى عَلَى نَفْسِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ عِبَادَ اللهِ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى،
Ibadallah,
Kematian merupakan realita yang mungkin dihindari. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. al-Jum’ah/62: 8).
Ya, kematian itu pasti akan menemui kamu…di mana saja kamu berada, kamu akan mati,
Wahai orang-orang kuat …
Wahai orang-orang kuat, nan muda usia …
Wahai orang-orang cerdas dan jenius …
Wahai pemimpin, pembesar …
Wahai orang fakir dan rakyat jelata …
Semua orang yang menangis (karena kematian orang yang dicintai), dia juga akan membuat orang lain menangis (ketika dia mati) …
Semua pembawa berita kematian, dia juga akan diberitakan kematiannya…
Semua harta simpanan akan binasa …
Semua yang disebut-sebut akan dilupakan …
Tidak ada yang kekal selain Allah.
Jika ada orang yang merasa tinggi, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih tinggi.
Ketahuilah, semoga Allah menjagamu, orang yang hidup pasti akan mati … dan orang yang mati akan hilang (dari kehidupan) … dan semua yang akan datang pasti akan tiba waktunya …
مَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ
“Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang.” (QS. Al-Ankabut/29: 5).
Wahai saudaraku, kehidupanmu yang hakiki akan mulai setelah kematianmu … Persiapkanlah segala sesuatu untuk bekal menjalani kehidupanmu yang sebenarnya. Amal kebaikan, itulah bekal menghadap Allah ‘Azza wa Jalla.
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَعَاكُمُ اللهُ- عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ؛ أَبِيْ بَكْرٍ الصِدِّيْقِ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِيْ الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ .
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمُيْنَ، اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ .
اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَالعَمَلَ الَّذِيْ يُقَرِبُ إِلَى حُبِّكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ .
عِبَادَ اللهِ اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، { وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ } .
(Disadur oleh Abu Isma’il Muslim al-Atsari dari makalah berjudul Ablaghul ‘Izhaat, karya syaikh Khalid ar-Raasyid)
(Diadaptasi dari majalah As-Sunnah Edisi 04-5/Tahun XIV/1431H/2010).