Selasa, 16 Agustus 2011

THE SUN (ASY-SYAMS) Demi jiwa dan penyempurnaan, Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaan.32

Secara nurani anda mengetahui dan mampu membedakan mana kebaikan dan mana keburukan. Orang yang tidak beragama sekalipun akan sepakat untuk menyatakan bahwa pikiran atau perbuatan mencuri itu buruk dan nista, sementara pikiran atau perbuatan menyelamatkan orang lain itu adalah baik dan mulia.Sikap santun, pemaaf, adil dan jujur adalah perbuatan-perbuatan baik yang muncul dari pikiran kebaikan. Apa pun agamanya, setiap orang pasti sepakat dengan pikiran-pikiran yang baik itu. Demikian pula denga sikap kasar, malas, berkhianat, zalim dan durhaka. Semua itu berasal dari pikiran yang buruk dan semua orang pun akan sepakat dengan anda. Tak ada yang meragukan!
Pada dasarnya, naluri akan selalu mengajak anda kepada kebaiakan, meskipun dampaknya tidak menyenangkan anda. Pikiran untuk memberi maaf kepada orang yang enggan meminta maaf kepada anda adalah kebaikan, meskipun pikiran ini tidak menyenangkan memuaskan anda. Naluri juga selalu mencegah anda dari keburukan, meskipun dampaknya menyenangkan anda. Terlalu banyak tertawa itu buruk, meskipun banyak tetawa, barangkali bisa menyenangkan anda. Mengapa demikian?.
“Perbuatan buruk yang menjadikanmu bersedih lebih baik disisi Allah daripada perbuatan baik yang membuatmu bangga.33
                                                                                      Ali Bin Abi Thalib.
Alasannya, seruan naluri anda kepada kebaikan atau yang mencegahh anda dari keburukan, tidak mempertimbangkan akibat dari perbuatan yang anda lakukan. Baik dampak itu berupa kesenangan atau kesedihan.
THE HEIGHTS (AL-A’RAF)
“Menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.34
Akal atau nulari akan selalu memerintah anda untuk berfikir menuju kesempurnaan. Naluri adalah penasehat sejati  yang senantiasa mengajak pikiran anda kepada kebaikan dan mencegah anda dari keburukan.
Dalam hal ini, salah satu persoalan penting yang tidak diperhatikan oleh Rhonda Byrne dan para pemerhati hukum tarik-menarik lainnya adalah : dari mana sumber pikiran anda sehingga anda mengetahui mana pikiran baik dan mana pikiran buruk?.
THE CLOT (AL-ALAQ)
“Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantara kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.35
Al-Qur’an yang mukjizati ini mengajak anda untuk membaca. Sebuah aktivitas yang adanya di dalam pikiran anda. Para pemerhati hukum tarik-menarik mengatakan bahwa anda pasti mampu mencegah pikiran anda dari dari yang buruk-buruk. Ini memang benar! Akan tetapi, siapakah sumber yang selalu memberikan perintah kepada pikiran anda tentang kebaikan dan keburukan itu kedalam benak anda? “Wahai manusia, coba pikirkan baik-baik, dari mana semua pikiran itu berasal,” demikianlah Allah (Swt) menyapa anda. Allah (Swt) ingin berkenlan dengan anda.
 THE OPENING (AL-FATIHAH)
“Segala puji bagii Allah, Tuhan semesta alam.36
Inilah fitrah anda. Pengetahuan fitri dalam diri anda akan selalu mengajak anda untuk mengenal Allah (Swt). Sebagian orang menyebutnya kesadaran akan Tuhan. Dialah Allah (Swt), Tuhan semesta alam. Tidak ada Tuhan selain Allah. Tidak ada kekuatan selain Allah. Dialah Tuhan yang menciptakan dan menguasai seluruh alam.
Allah (Swt) adalah penguasa alam-alam. Kalimat Hamdalah yang anda ucapkan adalah Alhamdulillahi rabbil’alamin yang artinya “Segala puji bagi Allah, Tuhan alam-alam”. Yakni seluruh alam (jamak). Dan bukannya Alhamdulillahi rabbil’alamin yang artinya “Segala puji bagi Allah, Tuhan alam”, yakni satu alam saja (tunggal).  
THE LETTER QAF (QAF)
“Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.37
Allah (Swt) adalah penguasa seluruh alam, termasuk alam pikiran anda, jadi kalau anda ingin mengendalikan pikiran anda, maka anda harus serahkan pikiran anda kepada Allah (Swt) dan mengikuti petunjuknya.
Mengapa anda harus serahkan pikiran anda kepada Allah dan mengikuti petunjuk-nya? Jawabnya sederhana, anda bukan pemilik atas pikiran anda. Anda milik Allah (Swt), sehingga anda harus berpikir positif dan mau mengembalikan sesuatu kepada pemiliknya. Apabila anda menolak untuk mengembalikan pikiran anda kepada Allah (Swt), berarti anda melawan hukum tarik-menarik. Inilah The secret yang dijelaskan Al-Qur’an.
Descartes telah melakukan kesalahan ini saat dia mengatakan “aku berfikir, karena itu saya ada.” Dia menganggap yang ada itu identik dengan pikiran atau dirinya. Padahal Descartes seharusnya mengatakan “Aku berfikir, Karena Tuhan ada.” Mengapa demikian? Sebab yang mutlak ada itu hanya Tuhan dan bukan pikirannya.    
HADIS QUDSI
“Wahai hamba-ku, taatilah Aku sehingga Aku akan menjadikan engkau seperti aku. Aku berkata kepada sesuatu “Jadilah, maka jadilah ia.” Maka bila kamu patuh kepada-ku, aku jadikan engkau dapat mengatakan kepada sesuatu “Jadilah, maka jadilah ia.38

RAHASIA REZEKI

THE WINNOWING WINDS (ADZ-DZIKRIYAT)
“Sesungguhnya Allah dialah Maha Pemberi Rezeki yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.177 
THE WINNOWING WINDS (ADZ-DZIKRIYAT)
“Dan dilangit terdapat sebab-sebab rezekimu dan terdapat pula apa yang dijanjikan kepadamu.178
THE STAR (AN-NAJM)
“Dan bahwasanya dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan.179
REPENTANCE (AT-TAUBAH)
“Dan jka kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberi kekayaan kepadamu dari karunia-nya, jika dia menghendaki.180
SHEBA (SABA’)
“Katakanlah : “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah. “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-nya di antara hamba-hamba-nya dan menyempitkan (bagi siapa yang di kehendaki-nya). Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.182
THE TABLE (AL-MA’IDAH)
“Beri rezekilah kami, dan engkaulah pemberi rezeki yang paling utama.183
THE FAMILY OF ‘IMRAN (ALI-‘IMRAN)
“Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-nya tanpa perhitungan.184

Sabtu, 13 Agustus 2011

AIR MATA RASULULLAH MENGINGAT SIKSAAN WANITA

Bila mengingat siksaat umatnya yang ahli maksiat di akhirat yang begitu sangat mengerikan, Nabi Muhammad saw. langsung meneteskan air mata. Beliau menjadi bertambah sedih dan prihatin ketika mengingat siksaan yang akan dialami kaum wanitanya kelak.
Sahabat Ali karamahullahu Wajhah berkata, “Pada suatu hari aku dan Fatimah menghadap Rasulullah saw. Aku melihat beliau sedang bersedih hingga akhirnya beliau menangis. Kemudian aku bertanua kepada beliau, “ Ya Rasulullah, bapak dan ibuku menjadi tebusanmu dari keprihatinan serta kesedihanmu karena begitu cintanya diriku kepadamu. Mengapa engkau mengalami kesedihan yang begitu mendalam?”
Beliau menjawab, “Wahai Ali, pada suatu malam aku dibawa ke langit oleh malaikat. Aku melihat kaumku dari golongan wanita sedang disiksa di dalam neraka dengan aneka macam bentuk siksaan. Kemudian aku menangis ketika melihat betapa pedihnya siksaan yang mereka terima.
Rasulullah saw. selanjutnya menerangkan dengan terperinci mengenai macam-macam siksaat tersebut dengan bersabda,
“Aku melihat seorang wanita yang berada di neraka. Ia digantung dengan rambutnya sendiri, dipanggang di atas bara api hingga otaknya mendidih. Aku juga melihat seorang wanita yang digantung mulut dan tenggorokannya. Lalu, ia disuruh meminum air yang sangat panas. Kemudian aku melihat seorang wanita yang diikat kedua kakinya dijadikan satu dengan buah dadanya. Lalu kedua tangannya diikat dijadikan satu dengan jidatnya (dahinya). Allah menyuruh seekor ular dan kalajengking untuk menggigit tubuhnya.”

Nabi Muhammad saw. bersabda lagi,
“Aku melihat wanita yang digantung buah dadanya, Aku melihat wanita yang wajahnya menyerupai seekor babi dan berbadan himar. Mereka disiksa dengan sejuta macam siksaan. Lalu aku melihat wanita yang berkepala anjing dan mulutnya selalu menganga hingga api masuk ke dalamnya. Kemudian, api itu disemburkan lagi melalui duburnya. Siksaan itu masih ditambah lagi dengan banyaknya pukulan dari para malaikat ke arah kepalanya dengan menggunakan palu dari api.”

Selanjutnya, Fatimah az-Zahra yang berwajah cemerlang berdiri mendekati beliau seraya bertanya, “Oh kekasih yang menjadi penyejuk mataku, perbuatan apa yang dilakukan oleh wanita-wanita itu sewaktu di dunia hingga mereka disiksa begitu pedihnya?”
Rasulullah saw.  Menjawab, “Wahai putriku yang kecil, wanita yang digantung rambutnya itu, ketika hidup di dunia, ia tidak menutup rambutnya dari laki-laki lain. Adapun yang digantung mulutnya itu adalah perempuan yang senang menyakiti hati suaminya dengan mulutnya. Ini semua merupakan pembalasan di akhirat menurut amal perbuatannya di dunia. Sedangkan wanita yang digantung dengan buah dadanya adalah perempuan yang berbuat zina dan menodai kesucian tempat suaminya. Adapun wanita yang digigit ular dan kalajengking dengan keadaan kedua kakinya diikatkan pada dahinya adlah perempuan yang tidak pernah mandi jinabat dan mandi haid. Siksaan itu juga disebabkan dirinya suka menyepelekan shalat.”
Beliau melanjutkan penjelasannya. “Wanita yang berkepala babi dan berbadan himar adalah perempuan yang suka mengadu doba dan pembohong. Adapun wanita yang berkepala anjing yang mulutnya dimasuki bara api sampai keluar lagi lewat duburnya adalah perempuan yang suka mengungkit-ungkit pemberiannya. Ia juga memiliki sifat pendengki selama di dunia.
Kemudian Nabi Muhammad saw. Bertutur lagi kepada Fatimah. “Wahai putriku, adapun dosa yang paling fatal adalah dosa seorang wanita yang suka membantah perintah suaminya. Sebab, keberadaan suami terhadap istrinya adalah bagaikan orang tua terhadap anaknya. Karana, ketaatan seorang anak kepada orang tua dalam meminta keridhaannya adalah suatu kewajiban yang mestinya dilakukan. (Lihat Uqudul Jain, hln. 12)

AIR MATA RASULULLAH MENDENGAR PERINGATAN

Nabi Muhammad saw. adalah orang yang sangat peka dan memiliki hati yang lembut. Maka, ketika mendapat ayat yang berisi teguran atau peringatan, beliau tidak mampu menahan air mata karena ketakutannya kepada Allah.
Hal itu sebagaimana yang disebutkan dalam ayat Al-Qur’an berikut ini.

“Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis? (an-Najm: 59-60)

Ahli sifat berkata, “Sesungguhnya kami berasl dari Allah, dan kepada-Nya kami kembali.”
Kemudian para sahabat menangis hingga air mata mereka mengalir membasahai pipi. Ketika mendengar tangisan para sahabat ini, Rasulullah saw. pun ikut menangis bersama mereka.
Kemudian beliau bersabda,
“Tidaklah masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah. Dan tidaklah masuk surga orang yang terus menerus berbuat maksiat kepada Allah. Andaikan kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan membawa kalian pergi dan mendatangkan suatu kaum yang berdosa. Kemudian Dia mengampuni dan merahmati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Lihat Ar-Rasulu Yabkiy)

Rasulullah saw. menangis karena tidak mampu menahan gejolak hatinya yang diliputi oleh rasa takut yang luar biasa kepada Allah. Beliau khawatir tidak akan mendapat rahmat dan juga takut terhadap murka Allah.

AIR MATA RASULULLAH MENGHAYATI ISI AL-QUR’AN


Kadang kala Nabi Muhammad saw. menangis ketika menghayati makna yang ada dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang sedang beliau baca. Menangis seperti ini sering beliau lakukan. Ini sebagaimana yang dikisahkan dalam hadits shahih.
Pada suatu saat, Rasulullah saw. sedang duduk bersama Abdullah bin Mas’ud. Akhirnya terjadilah dialog antara beliau dan Abdullah  bin mas”ud r,a.beliau berkata kepadanya “Bacakanlah Al-Qur’am untukku.”
Ibnu Mas’ud lantas berkata, “Aku membacakan Al-Qur’an untukmu? Bukankah Al-Qur’an kepadamu?”
Rasulullah saw. kemudian berkata, “Aku ingin mendengarnya dari orang lain.”
Akhirnya Abdullah bin Mas’ud membaca surah an-Nisaa’ hingga tiba pada ayat berikut ini.
 “Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (an-Nisaa : 41)
Mendengar ayat tersebut, Rasulullah saw. berkata kepada Ibnu Mas’ud, “Cukup sampai ini saja sekarang.”

Ibnu Mas’ud mengakhiri bacaannya. Ia lalu menoleh kepada Rasulullah saw. yang sedang berlingang air mata. (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan, Nabi Muhammad saw. mendatangi Yunus bin Muhammad bin fadhalah dan ayahnya di Bani Dzafar. Kemudian beliau duduk di atas batu basar yang beradi di Bani Dzafar bersama Ibnu Mas’ud, Mu’adz, dan beberapa orang sahabat. Rasulullah saw. pun memerintahkan seseorang untuk membaca Al-Qur’an hingga sampai pada ayat 41 dari surah an-Nisaa’. Kenudian, Nabi Muhammad saw. menangis hingga air mata mambasahi kedua pipi beliau yang halus itu.
Lalu beliau bersabda,
“Wahai Tuhanku (tangisanku), ini terjadi di antara para sahabatku. Lalu bagaimana jika aku tidak dengan mereka?” (Baca Ar-Rasulu Yabkiy)
Al- Qurubi berkata bahwa ulama-ulama kita menuturkan, “Rasulullah saw. menangis karena keagungan kandungan ayat yang menerangkan dahsyatnya hari kiamat. Pada waktu itu, para nabi datang kepada umatnya sebagai saksi, baik membenarkan maupun mendustakan mereka. Sedangkan Nabi Muhammad saw. didatangkan kepada umat sebagai saksi.”
Sa’ad bin Abi Waqash berkata bahwa dirinya mendengar Rasulullah saw. bersabda,
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini turun dengan kesedihan. Jika kalian membacanya, maka menangislah. Jika kalian tidak bisa menangis, berpura-puralah menangis. Bacalah Al-Qur’an. Barangsiapa yang tidak membaca Al-Qur’an, maka ia bukan termasuk golongan kami.”

Nabi Muhammad saw. membaca Al-Qur’an dengan cara beruntun. Artinya, jika membaca ayat yang isinya tasbih, maka beliau membaca tasbih. Jika membaca ayat yang isinya pertanyaan, maka beliau bertanya. Sedangkan jika membaca ayat yang menyeru untuk meminta perlindungan, maka beliau meminta perlindungan. (HR Muslim)
Rasulullah saw. adalah orang yang paling lembut hatinya. Selain itu, beliau juga paling deras air matanya.
Saleh al-Mara berkata, “Aku bermimpi sedang membaca Al-Qur’an dihadapan Rasulullah saw. Kemudian beliau berkata kepadaku, “Wahai Saleh, engkau membaca ayat ini, mana tangisanmu?” (Baca Ihya ‘Ulumuddin)
Menangis ketika membaca Al-Qur’an dan mendengarkannya adalah sifat dari orang-orang arif. Ayat-ayat ini juga merupakan syiar bagi hamba-hamba Allah yang saleh.sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya berikut ini.
“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis, dan mereka bertambah khusyu.” (al-Israa’ : 109)

Bacaan, bacaan

KALIMAT pertama dalam wahyu berbunyi,
ﺍ ﻘﺭ ﺃ ﺒﺎ ﺴﻡ ﺭ ﺒﻙ ﺍ ﻠﺫ ﻯ ﺨﻠﻕ ﴿۱﴾ [ﺍ ﻠﻌﻠﻕ : ۱]
“Bacalah, demi nama Tuhanmu yang menciptakanmu.”
(Al-Alaq).
Sebaik-baik teman duduk bagi manusia adalah buku. Dia adalah sebuah kelezatan terbesar yang membuka cakrawala akal manusia. Barangsiapa menjadikan tinta sebagai pelayannya, maka dia akan membawanya ke mimbar-mimbar. Barangsiapa yang senang berteman dengan kertas-kertas dia akan mencapai kemuliaan. Tidaklah sekali-kali seseorang melihat dan membaca sebuah buku, kecuali pasti dia akan mendapatkan faedah. “Rampasan” perang yang sangat menguntungkan bisa di petik dari hikmah yang ada dalam buku-buku. Tulislah huruf-huruf ilmu itu di lempengan hatimu, tulislah baris-barisnya yang berfaedah di lembaran ruhmu. Bercelaklah dengan kalimat-kalimat ilmu agar kau melihat kerajaan-kerajaan langit dan bumi. Saat kau sedang menyendiri bersama buku, maka akan terlipat kecil zaman-zaman untukmu, dan masa-masa akan melongokmu. Akan ada panggilan pelajaran penuh hikmah buatmu, nasehat-nasehat akan mengalir deras buatmu, akan kau reguk pengalaman-pengalaman dan kau dikejutkan dengan keajaiban-keajaiban. Peraslah mutiara ilmu dari payudara buku-buku, karena sesungguhnya dalam buku-buku itu terdapat kerajaan pemikiran-pemikiran. Para pemilik buku dengan buku-bukunya jauh lebih kaya dari pada Qarun dengan harta-hartanya, lebih mulia dari pada Nu’man sang pemimpin batalyon,  lebih baik dari Baramikah, orang yang menemani buku-buku jauh lebih baik hidupnya dari teman-teman gelas. Madrasah-madrasah yang mempelajari hadist jauh lebih mulia dan agung dari tempat-tempat yang mempelajari senandung-senandung lagu. Teman buku-buku akan melindungimu dari kesesatan arah para raja. Menjagamu dari kekejian para penguasa keji, akan melindungimu dari kebengisan orang-orang yang zalim, akan menjagamu dari celaan para pendengki, kekerdilan pada pencela pandangan orang-orang yang sinis, ecehan orang-orang kikir kekotoran orang-orang idiot, serangan orang-orang jago ghibah, dan kekerdilan orang-orang bodoh. Perbanyaklah berakrab-akrab dengan buku, selalulah membolak-balik buku, teruslah bersabar dengan karya-karya brilian, sebab apalah artinya zaman tanpa membaca dan menelaah
“Apa gunanya umur tanpa membaca
Apakah manisnya hidup tanpa buku.”
Negeri-negeri telah pergi, raja telah terlupakan, pasar-pasar telah sepi, rumah-rumah telah diratakan dengan tanah, istana-istana telah ambruk, taman-taman telah kering kerontang, harta-harta telah fana, manusia-manusia telah meninggal. Namun hikmah-hikmah senantiasa lestari dalam buku ilmu pengetahuan ada di dalam ketras-kertas, ilmu ada dalam karya-karya. Warisan ilmu tetap eksis,
“Semula tempat adalah pelana kuda yang berlari kencang dan semulia-semulia teman-teman duduk bagi manusia adalah buku.”
Dalam sebuah hadits di sebutkan.
ﺇ ﻥ ﺍ ﻷ ﻨﺒﻴﺎ ﺀ ﻠﻡ ﻴﻭ ﺭ ﺜﻭ ﺍ ﺩ ﺭ ﻫﻤﺎ ﻭ ﻻ ﺩ ﻴﻨﺎ ﺭ ﺍ ﺇ ﻨﻤﺎ ﻭ ﺭ ﺜﻭ ﺍ ﺍ ﻠﻌﻠﻡ ﻔﻤﻥ ﺃ ﺨﺫ ﺒﻪ ﺃ ﺨﺫ ﺒﺤﻅ.
“Sesungguhnya para nabi tidak mewriskan dirham tidak pula dinar, mereka mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya dia telah mengambil bagian yang besar..[1]



[1] HR. Abu Dawud : 3641 ; At-Tirmidzi : 2682 ; Ibnu Majah : 223, Ad-Darimi : 342. Lihat juga Misykat : 212.

“Maka Bersabarlah Kamu dengan Sabar yang Baik.” (Al-Ma’arid: 5)

SABAR adalah benteng kokoh, yang tidak mudah di serbu pasukan, dan tidak mudah dimasuki musuh. Sabar adalah tameng kuat yang tidak akan bisa ditembus anak panah dan tidak akan rusak dilempari batu-batu.
Sabar adalah semangat menghancurkan keputusasaan, melawan kegagalan, dan menjungkalkan kepelikan urusan.
Sabar adalah memegang bara, menutupi luka, menyembunyikan musibah, meredam hawa nafsu. Sabar adalah bekal yang tidak akan pernah habis, pembantu yang tidak mengeluh, dan sahabat yang tak akan pernah jemu.
Tidaklah kemanjaan tabiat bisa di taklukkan kecuali dengan kesabaran, dan tidaklah luka jiwa bisa di sembuhkan kecuali lewat kesabaran. Sesungguhnya kesabaran adalah pelipur kesedihan, penyejuk lara, ruh bagi yang keletihan, hiburan bagi yang dilanda musibah.
Jika ada sabar bersamamu, maka tidaklah berarti bagimu jumlah logistik musuh. Tidak pula api dan senjatanya. Dengan sabar, masalah besar akan teratasi sambil tertawa, dan pertarungan besar akan di menangi dengan senyuman.
“Musuhku mengingkari dan dia tak tahu
Diriku adalah terhormat dan peristiwa zaman melemah
Musuhku melihatku bagaimana dia bodohnya
Dan kuperlihatkan kesabaran bagaimana adanya.
Barangsiapa yang hatinya digempur krisis, maka obatnya adalah sabar. Barangsiapa yang perih karena bencana, obatnya adalah sabar. Ujian datang bergelombang-bergelombang bersusun-susun dan bergerak kencang, sabar yang akan menghapuskannya. Para pendengki, para pencaci berkelompot mengepung orang yang kena musibah, kesabaranlah yang akan menelan semua yang mereka lakukan.
Saat tidak ada lagi karib yang menghibur, kata tak ada lagi teman yang menemani, tidak juga sahabat yang simpati, maka kesabaran mengganti semuanya. Kesabaran mampu berbicara atas nama semua. Kesabaran mampu memenuhi kewajiban sahabat dan kekerabatan. Kesabaran yang indah tidak ada keluh kesah di dalamnya. Pengingkaran tidak menyobek-nyobek wajah indahnya. Mahkotanya tak retak karena adanya kebencian.
Kesabaran yang indah siap menerima semua qadha’ (ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala), Kesabaran dengan tenang akan menerima semua akibat. Kesabaran akan selalu siap menyambut jalan keluar dan siap menanti pahala.
Mungkin saja ada kesabaran, namun dia bukan yang baik, sehingga pemiliknya tidak mampu menyembunyikan keluhan-keluhan, tidak pula kuat merahasiakan pembicaraan, dan tidak mampu meredam kecaman.
Kesabaran yang tidak baik hanyalah sebuah kepura-puraan. Yaitu, kesabaran yang dibarengi dengan erangan, ketangguhan yang disertai kepura-puraan dan keindahan di dalamnya.
Sabar yang baik adalah kemampuan memanggul musibah dengan diam, menerima sergapan masalah dengan tenang, menerima hantaman dengan ridha.
Para pencaci tak mendapatkan petunjuk jalan untuk menaklukkan orang yang terkena musibah karena kesabarannya. Para pendeki tidak melihat dampak negatif akibat ujian yang menimpa orang-orang sabar ketika mendapat bencana, sehingga mereka tidak bisa menari kegirangan.
Di antara yang mampu membangun kesabaran yang baik adalah keyakinan bahwa usaha apapun tidak mungkin dapat membendung takdir, dan kebaikan akibat adalah bagi seseorang yang menaruh harap pahala dan bersabar. Juga dengan cara melihat yang tersisa pada jiwa, anak, kedua orangtua dan harta. Dengan melihat kemah-kemah mereka yang mendapat bencana, atau menyaksikan lembah-lembah orang-orang yang ditimpa musibah. Sebab disetiap lembah ada Bani Said (kiasan untuk orang-orang malang). Tak ada satu perkarapun lepas dari musibah. Pada setiap kegembiraan akan ada kesedihan, dan dalam setiap kegembiraan  akan ada kesedihan, dan dalam setiap keriangan ada pelajaran. Ingatlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
ﻭ ﻠﻘﺩ ﺃ ﻫﻠﮑﻨﺎ ﻤﺎ ﺤﻭ ﻠﮑﻡ ﻤﻥ ﺍ ﻠﻘﺭ ﻯ ﴿۲۷﴾ [ﺍ ﻷ ﺤﻘﺎ ﻑ : ۲۷]
“Dan sesungguhnya kami telah membinasakah negeri-negeri di sekitarmu.”
(Al-Ahqaf : 27)
Barangsiapa yang melihat daftar khalifah sejak awalnya, maka pasti dia akan melihat bencana datang berturut-turut, musibah-musibah datang bertubi-tubi. Ada yang dibunuh, ada yang ditipu, ada yang diturunkan. Antara yang berteriak ada pula yang mengerang, ada yang binasa, ada pula tenggelam, terbakar dan dipencilkan. Negeri-negeri bubar, raja-raja dihinakan, istana-istana runtuh, tentara-tentara di hancurkan, zaman-zaman lewat, kebun-kebun layu, rumah-rumah menjadi kosong dan darah hilang sirna, Firman-nya, “Adakah kamu melihat seorangpun dari mereka atau kamu dengar suara mereka yang samar-samar.” (Maryam : 98).
Seorang menteri yang terkenal dan memiliki kebesaran dia dipecat, kemudian diasingkan, diadili kemudian dipenjarakan setelah itu diputuskan untuk dibunuh. Saat orang-orang membawanya pergi ke tempat pemancungan, dia malah tersenyum dan menyenandungkan sebuah syair :
“Barangsiapa yang menanyakan tentangnya dengan cacian dan barangsiapa yang mencaciku dan tidak menanyakanku ujian telah menampakkan diriku sebagai anak merdeka sabar atas huru hara semua guncanagan.”
Kedudukan sabar dalam iman sama dengan posisi kepala bagi jasad. Maka, barang siapa yang tidak ada kepalanya sama halnya dia tidak memiliki jasad. Barang siapa yang tida memiliki kesabaran, maka sama artinya dia tidak memiliki keimanan.
Penyair di bawah ini di kejutkan oleh kematian tujuh anaknya dalam waktu bersamaan. Lalu dia menikamkan benda tajam dengan tusukan yang lebar. Namun kembali dia memperbaiki diri dengan bersabar dan melangkah pada kebenaran. Kemudian bersenandung kecil :
“Sikap kokohku bagi para pencaci itu agar kuperlihatkan bahwa aku tak pernah gentar dengan kebimbangan zaman.”
ini adalah sebuah sikap kokoh, keteguhan hati, sikap tabah, penentangan dan ketegaran di depan manusia-manusia kejam. Penampakan sikap indah dan kegembiraan dengan semua yang di takdirkan, ridha dengan qadha’, menyerahkan pada Yang Maha Agung dan Bijaksana.
Ketaatan pasti membutuhkan pada kesabaran agar dia menjadi sempurna dan berada pada puncak kebaikan. Dengan kesabaran, ketaatan akan bisa dilakukan dengan ikhlas dengan skala besar. Akan tampak kebenarannya, gambar tanpa kandungan apa-apa, dan lafazh-lafazh tak bermakna.
Maksiat tidak bisa dilawan dan di bendung kecuali dengan kesabaran, agar dia tidak melemahkan jiwa, mematikan hati dan menjatuhkan dalam musibah.
Dengan kesabaran maksiat tidak akan menemukan jalan masuk kedalam hati. Tak akan ada petunjuk untuk menjadikan karakter menjadi lemah. Bahkan maksiat itu akan kembali ketempat dia datang semula. Akan hancurlah setan yang menggodanya. Iblis yang bandel akan babak belur. Sebaliknya dengan ketidakadaan sabar, maka  jiwa akan senantiasa di lubung kesalahan, ruh akan belepotan dengan roda-roda dosa. Sebab jiwa telah di hancurkan dalam peperangan, dan dia ditawan di medan laga.
Musibah itu tidak bisa dihadapi kecuali dengan kesabaran agar pijakan menjadi ringan dan bencana menjadi terasa ringan, jika kesabaran tidak ada, maka satu musibah akan berubah menjadi dua, jika sabar tidak ada, maka jiwa akan berguncang sekeras-kerasnya dan pemberi ingat akan berteriak apa yang terjadi?
Jika sabar telah tercapai, maka pahala akan digapai, sebutan akan cemerlang dan hati akan lapan. Takkala kesabaran bersama dengan musibah, maka kerugian akan mengubah menjadi keuntungan, hutang-hutang akan menjadi harta rampasan, kesedihan berubah menjadi kebahagiaan.
Barang siapa yang menginginkan kehidupan tanpa kesabaran, maka sesungguhnya dia telah menginginkan kehidupan di luar tabiat. Dia telah melihat kehidupan bukan dalam gambar sebenarnya. Dia berada di bawah khayal dan dia berada di bawah misal-misal, dia lari dari bangun menuju tidur, dari realitas menuju mimpi-mimpi.
Barangsiapa yang memiliki kesabaran, maka tinggalkan semua omongan manusia karena kemenangan telah tiba. Sebab kemenangan itu senantiasa akan bersama dengan kesabaran. Jalan keluar telah dekat, sebab jalan kelaur itu selalu berbarengan dengan kesulitan. Kemudian telah demikian dekat, sebab bersama kesulitan akan selau ada kemudahan.
Dalam al-Qur’an sabar di sebutkan dalam beberapa bentuk. Kadang dalam bentuk perintah dan pujian atasnya, pujian atas orang-orang sabar, penyebutkan pahala mereka disisi Tuhan. Menyanjung pekerjaan baik mereka, penyebutan salam para malaikat atas mereka, shalawat dan rahmat Allah atas mereka, pemaparan sifat-sifat mereka adalah orang-orang yang memiliki nasib yang agung, mereka adalah orang-orang yang mendapat hidayah. Pekerjaan mereka adalah pekerjaan utama, maka selamat atas mereka.
Orang yang sabar, dengan kesabarannya hidup dalam kenikmatan (na’im) dan orang yang tidak sabar, akan hidup laksana di neraka (jahim). Penjara bagi orang yang sabar adalah tameng. Bencananya adalah karunia, ujiannya adalah anugerah, kefakiran adalah kekayaan, dan sakitnya adalah afiyah.
Adam sabar meninggalkan negeri pertamanya di surga. Nuh sabar atas kehilangan anaknya saat banjir topan. Ibrahim sabar saat di perintahkan untuk menyembelih anak kesayangannya. Ya’kub bersabar saat berpisah dengan Yusuf. Musa sabar atas semua kedzaliman Fir’aun. Dawud sabar atas pahitnya penyesalan. Sulaiman sabar atas fitnah dunia. Isa sabar atas perihnya kefakiran. Sedangkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau sabar atas semua yang di sebutkan. Beliau telah mengalami seluruhnya. Telah mengalami dan mencapai seluruhnya. Beliau sabar saat harus meninggalkan negerinya, meninggalkan kenikmatan masa kanak-kanak dan kenikmatan masa remaja. Beliau tinggalkan keluarga dan kerabat, rumah dan harta benda. Beliau sabar ketika kehilangan putera-puterinya. Maka, mengalirlah ruh mereka di depannya. Jiwa mereka gemeretakan di depan para pemandangnya.
Beliau sabar atas pahitnya derita. Beliau disakiti dalam manhaj dan negeri, dalam nama dan moral, dalam risalah dan isteri.
Beliau sabar atas celaan musuh, pengingkaran teman, kedurhakaan sahabat, kebencian para penghasut, dengan orang-orang yang iri, konspirasi para musuh, komplotan pasukan, ocehan para pelaku kebatialn, sedikitnya penolong. Beliau sabar atas sempitnya hidup, keringnya kefakiran, pedihnya kebutuhan, sedikitnya orang berpengaruh. Pacekliknya nafkah, sulitnya kehidupan, perihnya rasa lapar dan getirnya kemiskinan.
Beliau sabar atas menangnya musuh, terbunuhnya kerabat, ditawannya kekasih, diusirnya para sahabat, disiksanya para pengikut, dan luka di badan. Beliau sabar atas ancaman dan teror, guncangan serbuan licik, dan gonjang-ganjing perang.
Beliau sabar atas kesombongan orang-orang kaya, tingkah polah para pembesar, buruk akhlak para provokator, moral bejad orang-orang Badui, sombongnya orang-orang bodoh dan hinanya sopan santun manusia-manusia kasar.
Beliau sabar atas penghianatan orang-orang Yahudi, konspirasi orang-orang munafik, pertarungan dengan orang-orang yang di ajak kedalam Islam.
Baliau sabar atas gembiranya penaklukan, kegembiraan kemenangan, melimpahnya dunia, takluknya para raja, menyerahnya para penguasa zalim dan masuknya manusia kedalam agama Allah secara berbondong-bondong.
Beliau sabar atas melihat harta simpanan dikeluarkan dari lumbung-lumbung manusia dan beliau tidak mengambil walau satu qithmir.
Beliau sabar saat  mengiring rombongan onta dan sapi serta kambing yang bagaikan anak bukit. Lalu beliau distribusikan untuk mereka yang baru masuk Islam saat kota Makkah ditaklukkan. Beliau tidak mengambil satu pun dari onta, sapi atau domba tersebut. Beliau sabar untuk senantiasa diam dirumah yang terbuat dari tanah, hanya dengan makan gandum, tidur di atas tikar, menunggu keledai dan memakai kain wol keras. 
Ayahnya meninggal dan belaiu belum sempat melihatnya. Ibundanya meninggal saat masa menyusunya belum sempurna. Kakeknya meninggalkan dunia saat beliau belum tuntas dalam didikannya. Pamannya pergi saat perjuangan sedang bergejolak. Khadijah meninggalkan beliau di Hari Kesedihan. Anaknya meninggal saat cintanya tengah berada di puncak. Aisyah di tuduh serong saat cintanya sedang membara. Hamzah terbunuh saat pertempuran sedang berkecamuk.
Beliau merasa tenang di Madinah, namun orang-orang munafik tak rela dengan ketenangannya. Beliau memperoleh kemenangan pada saat Perang Badar namun dengan cepat kekalahan di terima di perang Uhud. Wajahnya cemerlang laksana bulan purnama, namun tiba-tiba wajah itu di bidik dengan anak panah. Giginya bersinar laksana jejeran kain bergaris lalu dia retakkan gerahamnya dalam perang. Ontanya mampu melampui onta-onta lainnya. Namun tiba-tiba seorang Badui mampu melampuinya.
Itu semua di tujukan agar semua pahalanya tetap abadi di akhirat dengan sempurna, usahanya di apresiasikan dengan syukur di depan Tuhannya. Agar beliau bisa menemui Tuhannya, pelindungnya dan sesembahnya dengan gembira. Agar semua pahalanya bersatu. Baik yang di awal maupun di akhir, yang dulu dan kini, di tempat yang di senangi, di sisi Tuhan Yang Berkuasa.
Beliau berhak untuk itu karena beliau sabar. Beliau berhak untuk itu karena beliau sabar. Beliau mendapatkan kedekatan dengan Tuhan, mendapatkan kemuliaan, wasilah, fadhilah (keutamaan), posisi mulia karena kesabarannya.           Beliau memiliki maqam (kedudukan) yang terpuji, taman yang mengalir, panji yang di ikat. Semuanya karena beliau sabar.
Beliau memiliki syafaat, kemuliaan, kedekatan, dan kehormatan, karena belalu sabar.
Mereka mendustakannya, mencercanya, mencela, dan menyiksanya. Maka turunlah firman-nya.
 ﺍ ﺼﺒﺭ ﻋﻠﻰ ﻤﺎ ﻴﻘﻭ ﻠﻭ ﻥ ﴿۱۷﴾ [ﺹ : ۱۷]  
“Bersabarlah atas apa yang mereka katakan.”  (Shaad : 17)
Mereka memeranginya, mengancamnya, mengusirnya, dan mengucilkannya, maka turunlah firman-nya, “Bersabarlah (Hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (An-Nahl : 127).
Mereka menyingkirkan, berpaling padanya, mencegal jalannya, dan menghadang di jalannya. maka turunlah firman-nya, “Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik.” (Al-Ma’rij : 5 ).
Beliau demikian lama menunggu pertolongan Allah. Musuhnya demikiam banyak, ujian semakin bertumpuk. maka turunlah firman-nya, “ Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah benar.” (Ar-Rum : 60).
Kaumnya menolak keberadaannya dengan penolakan yang kasar, jawaban paling kotor, ucapan tak senonoh dan dengan sikap tak bersahabat, lalu turunlah firman-nya, “Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul.” (Al-Ahqaf : 35).
Beliau sabar dengan kesabaran yang indah dalam semua tingkatan ibadah. Beliau sabar dalam ridha dan  marahnya, dalam damai dan perangnya, dalam kaya dan miskinnya. Maka jadilah beliau imam bagi orang-orang sabar dan teladan bagi orang-orang bersyukur.
Ya Allah. Kokohkan kami dalam sunnahnya. Jalankan kami di belakang jejaknya, dan tolonglah dakwahnya dengan tangan kami.[*].