Jumat, 15 Februari 2019

KHUTBAH JUM’AT - "HIKMAH DIBALIK MUSIBAH"

"HIKMAH DIBALIK MUSIBAH GEMPA LOMBOK"

KHATIB : H.M. SIBAWAEH, S.Pd

إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدًى
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Segala puji bagi Allah Swt Yang Maha Agung lagi Maha Mulia atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua, sehingga pada saat ini kita masih berada dalam kesehatan dan dapat hadir di majlis yang mulia ini untuk menunaikan kewajiban shalat jum’at.
Shalawat dan salam kita haturkan kehadirat Junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, karena dengan jasa besar beliau sehingga kita dapat menikmati ajaran yang benar sampai saat ini. Oleh karenanya mari kita semua bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kepada Allah dengan berupaya melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

Sidang Jum’at Rahimakumullah
Menjalani hari-hari kehidupan ini. Walaupun dalam suasana ujian dan cobaan yang ditimpakan kepada kita semua tidak lantas membuat kita berhenti untuk selalu memuji Allah SWT dan bersyukur atas anugerah segala nikmatnya.
Tidak ada perbuatan yang indah jika suatu bala bencana menimpa kaum Muslimin melainkan mereka menghadapinya dengan sabar dan tentunya selalu banyak-banyak memohon ampunan kepada Allah SWT dan bertaubat atas kesalahan dan dosa yang pernah di lakukan.

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. [QS At-Tahrim].

Tentunya semua kita berharap semoga kejadian semua ini bukanlah azab dari Allah SWt, karena jika semua ini azab, maka binasalah kita semua. Semoga ini adalah ujian yang membuat kita mengerti dan menyadari dengan kesalahan dan dosa-dosa yang kita lakukan dan membawa kita agar selalu bertaubat. Hanya dengan taubatlah musibah yang melanda kita akan terlepas.
Keadaan yang kita alami sekarang ini adalah gambaran kecil dan secuil dari gambaran tanda-tanda kiamat qubra.
 Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Hajj Ayat 1-2
  
“1. Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; Sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).
2. (ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu Lihat manusia dalam Keadaan mabuk, Padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya.” 
(QS. Al-Hajj: 1-2)

Sidang Jum’at Rahimakumullah
Mari kita gunakan kesempatan hidup yang diberikan kepada kita ini untuk memohon ampunan kepada Allah SWT dan bertaubat kepadanya, tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang Allah SWT akan kehendaki selanjutnya pada kita semua, karena sudah berapa banyak Allah SWT membinasakan suatu kaum pada zaman dahulu dikarenakan sikap dan sifat mereka yang selalu melampui batas sebagian kaum yang ditenggelamkan dan sebagian lagi ada yang dibinasakan dengan ditimbun kedalam dasar bumi.
Namun walaupun kita dalam keadaan penuh salah, khilaf dan mengalami persaaan resah, gelisah hendaknya kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah kaum Nabi yunus A.s yang semestinya mereka semua benar-benar akan diadzab malah azab yang menimpa mereka sangat terlihat jelas diatas kepala mereka. Namun mereka dengan persaaan yang tidak menentu, bersedih dan takut sambil menangis tersedu-sedu dan tersungkur serta mereka memohon ampun kepada Allah SWT dan menyatakan beriman kepada nabi yunus A.s. hingga Allah SWT kasihan kepada mereka dan melepas azab itu dan mereka semua selamat.
Mudah-mudahan kita semua dijadikan sebagai hamba yang mau bertaubat dan diselamatkan dari huru hara dunia dan akhirat.

Duhai "Gempa #26"
 Malam itu, Ahad (5/8/2018, di waktu 'Isya) santriwati sebuah Pondok Tahfizhul Qur'an tengah berkumpul di sebuah ruang asrama. Tiba-tiba bumi mengamuk dahsyat. Memuntahkan energi setara 7.0 magnitudo. Tembok-tembok asrama mulai retak menjalar. Tak ada waktu lagi membuka satu-satunya pintu yang tengah tertutup rapat. Maut di depan mata. Anak-anak perempuan penghafal Al-Qur'an itu akan terkubur hidup-hidup reruntuhan bangunan. Tiba-tiba salah satu sisi tembok, ambruk. Ambruk sebagian. Membentuk lubang menganga di tengah. Seluruh santriwati keluar melalui lubang tembok tersebut. Sesaat kemudian, bangunan asrama ambruk berkalang tanah. Mereka semua selamat.
Empat hari berselang....
Siang hari, Kamis (9/8/2018, 13.25 Wita), seorang karyawan berada dalam sebuah gedung tempat ia bekerja. Bersama kawan-kawannya. Tiba-tiba bumi berguncang hebat. Menggelegarkan magnitudo 6.2. Dia lari menyelamatkan diri. Kawan-kawannya tertinggal di dalam. Sesampai di luar, sebagian atap bangunan rubuh menimpa kepalanya. Bukan lari dari maut, ternyata dia lari menjemputnya. Kawan-kawan yang masih di dalam, justru selamat.
Dua kisah nyata yang berbeda. Di satu pulau yang sama. Lombok. Mengisahkan satu kesimpulan yang sama pula. Bahwa kematian, saat dia datang, tak ada celah untuk mengelak. Manakala belum waktunya ia menghampiri seseorang, sepasti apapun "matematika kematian", takkan mampu merenggut kehidupan.
Hei gempa...!! kau itu makhluk Allah. Kami juga. Kita sama-sama berada di bawah langit kerajaan-Nya yang Maha Luas. Kau itu hamba, kami juga hamba. Kau tunduk di bawah titah-Nya, kami juga menyerah pasrah di hadapan kedigdayaan-Nya. Kau tidak datang semaumu, kau datang atas perintah-Nya. Kau tidak datang karena kemarahan "Penunggu Rinjani". Kau tidak datang karena Rinjani akan "disucikan" oleh para "tetua" nggak jelas itu. Kau datang sekehendak Rabbmu yang juga Rabb kami. Allah... Allah... Jalla jalaaluh.
Jangankan Lombok yang kecil dan mungil ini. Semesta langit dan bumi pun, akan hancur sirna jika Allah tidak menahannya:
  
“Sungguh, Allah yang menahan langit dan bumi agar tidak lenyap; dan jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang mampu menahannya selain Allah. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun. [QS. Fathir: 41]

Kau, duhai gempa, juga tidak datang demi mengiyakan ramalan si dajjal tukang ramal. Kau tidak datang karena prediksi ini dan itu yang tak berdasar. Kau tidak datang demi membenarkan omong kosong tukang cocokologi (yang mencocok-cocokkan kejadian gempa dengan tanggal 26). Kau datang karena perintah Rabbmu. Maka tak ada tempat berlari dari siksa-Nya, kecuali berlari kembali kepada-Nya.
   
Maka berlarilah kalian (segera) menuju Allah. [QS. adz-Dzaariyaat: 50]

Kedatanganmu wahai gempa, tak sedikitpun mempercepat ajal kami. Tanpa kehadiranmu, ajal kami pun tak bisa ditangguhkan barang sesaat. Yang ditakdirkan terluka, ya terluka. Yang ditakdirkan selamat, ya selamat. Yang ditakdirkan mati, ya mati. Bahkan di posko yang aman pun tiba-tiba seseorang bisa menjadi mayit. Si mayit justru bukanlah korban gempa yang dibantu, tapi relawan yang membantu.
Jika saatnya tiba, kematian tak pandang bulu, tak dibatasi tempat dan waktu. Jika belum saatnya, seribu hentakan lempeng Flores sekalipun, takkan mampu merenggut jiwa kami, bahkan takkan mampu melukai kami sedikitpun jika itu tidak ditetapkan oleh Rabb kami.

“Katakanlah (wahai Muhammad ), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman.”
[QS. at-Taubah: 51]

Jumat, 01 Februari 2019

KHUTBAH JUM’AT


KHUTBAH JUM’AT

Bertaubat setelah bersabar

KHATIB : H.M. SIBAWAEH, S.Pd

إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدًى
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Segala puji bagi Allah Swt Yang Maha Agung lagi Maha Mulia atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua, sehingga pada saat ini kita masih berada dalam kesehatan dan dapat hadir di majlis yang mulia ini untuk menunaikan kewajiban shalat jum’at.
Shalawat dan salam kita haturkan kehadirat Junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, karena dengan jasa besar beliau sehingga kita dapat menikmati ajaran yang benar sampai saat ini. Oleh karenanya mari kita semua bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kepada Allah dengan berupaya melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

Sidang jum’at Rohimakumullah
Sejumlah ayat dalam Al-Qur’an menyeru kepada kaum Muslimin untuk bertaubat setelah mereka bersabar, berhijrah dan berjihad dijalannya sebagaimana firman Allah       dalam Surah An-Nur Ayat 31.
وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣١
“Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman. Mudah-mudahan kalian menjadi orang-orang yang beruntung.
(An-Nur [24] : 31).

Sidang jum’at Rohimakumullah
Yang menarik, ayat itu ditutup dengan kata la'allakum tuflihun, mudah-mudahan kalian menjadi orang yang beruntung. Tampak sekali keberuntungan dan kemenangan seseorang sangat tergantung pada taubatnya. Disisi lain, Allah juga memberi restu kepada orang yang bertaubat untuk menjadi pemenang sekaligus orang yang beruntung.
Dari pengertian tersebut terkandung sebuah makna tersembunyi (mafhum mukhalafah) bahwa sebaik apapun perbuatan seseorang, jika ia tidak bertaubat kepada Allah, maka akhirnya akan merugi. Hidupnya jauh dari kemenangan, apabila kejayaan dan kemuliaan. Mereka justru hidup dalam kesengsaraan dan kerugian yang besar. Bahkan mereka termasuk orang-orang yang zalim. Allah berfirman :
وَمَن لَّمۡ يَتُبۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ١١
“Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka adalah orang-orang yang zalim”. (Al-Hujurat [49] : 11).

Dari ayat di atas tergambar bahwa manusia hanya bisa dibagi dalam dua golongan. Pertama, orang-orang yang bertaubat. Kedua, orang-orang yang zalim. Tidak ada pilihan lain. Artinya, kalau dia bukan tergolong orang yang bertaubat, pasti ia termasuk golongan yang zalim. Tidak ada istilah setengah taubat dan setengah zalim.

Sidang jum’at Rohimakumullah
Dalam Al-Qur’an, kata taubat banyak dirangkaikan dengan kata iman dan amal shaleh (perbuatan baik). Hal ini menunjukkan bahwa taubat tidak bisa dilakukan oleh mereka yang hatinya belum terisi oleh iman. Taubat juga menjadi bagian tak terpisahkan dari amal shaleh. Allah berfirman :
وَإِنِّي لَغَفَّارٞ لِّمَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا ثُمَّ ٱهۡتَدَىٰ ٨٢
“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat, beriman, serta mengerjakan amal shaleh, kemudian tetap di jalan yang benar”.
(Thaha [20] : 82).

Sebaliknya, sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Furqan [25] ayat 69-70, mereka yang tidak bertaubat akan disediakan siksaan yang berat dan kehidupan yang menghinakan.
Kedua ayat di atas menegaskan bahwa taubat merupakan syariat yang wajib bagi setiap Muslim. Lebih dari itu, taubat merupakan perbuatan yang paling disukai Allah sebaliknya, Allah sangat membenci orang-orang yang “sok suci”. Dia mengecam orang yang merasa dirinya bersih. Allah  berfirman :
فَلَا تُزَكُّوٓاْ أَنفُسَكُمۡۖ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ ٣٢
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang-orang yang bertakwa” (An-Najm [53] : 32).

Rasulullah adalah manusia suci yang terbebas (ma’shum) dari kesalahan dan dosa. Namun, tiada seharipun beliau lalui tanpa bertaubat kepada Allah.
Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa beliau melakukan sebanyak 70 kali, bahkan dalam riwayat shahih lainnya disebutkan sebanyak seratus kali.
 “Wahai manusia,” kata Rasulullah   dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, “Bertaubatlah kamu kepada Allah dan mohonlah ampun kepada-Nya, karena sesungguhnya aku meminta ampun kepada Allah setiap hari sebanyak seratus kali.
Jika Rasulullah  yang ma’sum saja bertaubat sebanyak itu, lalu bagaimana dengan kita? Di sini persoalannya. Bukan sekadar pahala dan dosa, lebih dari itu, Allah sangat mencintai orang yang bertaubat. Bukankah yang kita cari dalam hidup ini adalah cinta Allah? Lalu, jika Allah mencintai orang yang bertaubat, mengapa kita tidak bersegera melakukannya ?
 إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِينَ ٢٢٢
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (Al-Baqarah [2];222).

Sidang jum’at Rohimakumullah
Perintah taubat memang tidak khusus ditujukan kepada orang yang berbuat dosa, akan tetapi tertuju kepada kaum Muslimin. Dalam hal ini Allah menggunakan kata perintah (Fiil Amr): tuubu (bertaubatlah). Kata ini menunjukkan bahwa bertaubat hukumnya wajib, sebagaiaman kewajiban menjalankan ibadah lainnya.
Tentu saja perbuatan ini untuk kepentingan manusia sendiri. Sebab, tujuan dari perintah taubat ini adalah membimbing manusia agar mencapai kebahagiaan hidup didunia maupun diakhirat.
Allah    tidak mendapat untung jika seluruh hambanya bertaubat. Sebalinya, tidak merugi jika seluruh hambanya membangkang dijalannya.

Sidang jum’at Rohimakumullah
Para ulama membagi taubat dalam dua kategori berdasarkan Al-Qur’an surat An-Nisa [4] ayat 17 dan 18 pertama, taubat yang diterima. Kedua taubat yang ditolak.
Dalam surat tersebut ditegaskan bahwa taubat yang diterima disisi Allah adalah taubatnya orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan (bi jahalatin).
Dalam tafsir ibnu katsir dijelaskan bahwa perkatan “bi jahalatin” pada ayat itu tidak berarti bahwa semua perbuatan dosa yang dilakukan tanpa pengetahuan secara otomatis tidak diterima taubatnya. Sebab, pada hakekatnya setiap perbuatan dosa itu adalah sebuah kebodohan (jahallah). Karenanya, pintu taubat itu masih tetap terbuka asal dilakukan dengan “segera”.
Lalu, siapakah yang taubatnya tertolak? Para ulama’ bersepakat bahwa pintu taubat tertutup bagi orang-orang kafir. Barang siapa yang mati dalam keadaan kafir, maka dosa-dosanya tidak diampuni. Sebanyak apapun amalnya, tidak akan diperhitungkan oleh Allah sekalipun mereka sangat besar jasanya dalam amal-amal kemanusiaan. Dalam hal ini, seorang anak sekalipun tidak diperbolehkan mendo’akan ayah atau ibu yang mati dalam keadaan kafir.
Kedua, orang yang terlambat bertaubat sehingga ajalnya sudah sampai ditenggorakan. Fir’aun adalah contohnya. Sepanjang hidupnya dia menjadi musuh Allah sehigga ia ditenggelamkan dalam lautan. Sesaat sebelum mati ia sempat bertaubat, tapi Allah tidak menerima taubatnya.
  
Sidang jum’at Rohimakumullah
Ibnu Attahillah menjelaskan, jika taubatmu diterima, yang ditandai jika engkau merasa lapang ketika melakukan ketaatan serta cenderung pada negeri akherat, maka bergembiralah dan bersyukurlah pada Allah atas yang ditandai engkau masih menikmati maksiat dan masih merasa senang dengannya, maka minta tolonglah kepada Allah.
Hidup memang tak pernah lepas dari salah dan dosa tapi saat terjerambat, segera bangkitlah dengan taubat nasuha. Akhirnya semoga Allah melapangkan kehidupan dunia dan akhirat kita.


SYARAT USUL KENAIKAN PANGKAT GURU


Usulan Kenaikan Pangkat Periode April (batas 31 Oktober mundur tahun) / Oktober (batas 15 Mei tahun berjalan) kelengkapannya sebagai berikut :

1.  Surat Pengantar Usul dari atasan langsung;
2.  Lampiran I (DUPAK);
3.  Lampiran II (Surat pernyataan melaksanakan tugas);
4.   Lampiran III (Surat pernyataan melaksanakan pengembangan keprofesian berkelanjutan);
5.  Lampiran IV (Surat pernyataan melakukan kegiatan penunjang guru);
6.  Foto Copy SK CPNS, PNS dan Kenaikan Pangkat Terakhir (legalisir dinas);
7.  Foto Copy SK Konversi NIP (legalisir dinas);
8.  Foto Copy KARPEG (legalisir dinas);
9.  Foto Copy SKP  (2 tahun terakhir ) / (disahkan sekolah).;
10.      Foto Copy Sertifikat Pendidik (legalisir dinas);
11.      Foto Copy Ijazah Terakhir (legalisir kampus);
12.      Foto Copy Transkip Nilai (legalisir kampus);
13.      Foto Copy Penetapan Angka Kridit Lama;
14.      Foto Copy SK Mutasi;
15.      Foto Copy SK Jabatan Kepsek;
16.      Foto Copy Surat Ijin Belajar Bagi Yang Penyesuaian;
17.      SK Penetapan Angka Kredit dan Kenaikan Jabatan Fungsional Guru (SK Jafung);
18.      PKG 4 tahun terakhir (terjilid sendiri);
19.      PTK / PTS(1 PTK dengan nilai AK = 4), Jurnal (1 jurnal dengan nilai AK = 2) dan atau Bahan Ajar (1 BA dengan nilai AK = 0,5);
-            PTK berdasarkan golongan berisi (Foto Kegiatan PTK, Seminar PTK, daftar hadir PTK, Surat keterangan kepala sekolah)/(terjilid sendiri), dengan ketentuan;
ü  III/a ke III/b = Tidak ada PTK
ü  III/b ke III/c = 1 PTK (butuh 4 pi)
ü  III/c ke III/d = 1 PTK + 1 Jurnal (dengan nilai AK = 2),
(atau 4 bahan ajar dengan nilai (1 BA = 0,1), (butuh 6 pi);
ü  III/d ke IV/a = 2 PTK / 2 Jurnal atau 8 bahan ajar (butuh 8 pi);
ü  IV/a ke IV/b = 2 PTK + 2 Jurnal (butuh 12 pi);
ü  IV/b ke IV/c = 2 PTK/PTS + 2 Jurnal (butuh 12 pi);
20.      Laporan Pengembangan Diri/Diklat (berisi Laporan Diklat, Surat Tugas, Sertifikat Pelatihan) / (disahkan sekolah);
ü III/a s.d ke III/d = 3 Pd
ü III/d s.d ke IV/c = 4 Pd
ü IV/c s.d ke IV/d = 5 Pd
21.      SK Pembagian Tugas Mengajar dan SK lainnya yang bersumber dari sekolah (dari tahun terakhir SK Pangkat s.d terbaru).

ANGKA KREDIT YANG DIBUTUHKAN

III.A ke III.B
150
III.B ke IIII.C
200
III.C ke IIII.D
300
III.D ke IV.A
400
IV.A ke IV.B
550
IV.B ke IV.C
700
IV.C ke IV.D
850
IV.D ke IV.E
1050